Teror Tembakau

Di layar kaca, seorang pria kurus merokok dihadapan beberapa polisi. Pria itu adalah Bachtiar Angkotasan, seorang ayah yang sempat membuat heboh karena memasung anaknya Gia Wahyuningsih. Gia, setiap hari dipasung Bahctiar karena. Simpati meruap. Pemerintah Kabupaten Bekasi menanggung biaya pengobatan Gia.

Bak roda yang menggelincir cepat. Dari di atas lantas terjerembab tergilas. Bachtiar ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan pelanggaran perlindungan anak. Bahkan, Gia pun nyaris menjadi korban perkosaan Bachtiar.

Untuk menyambung hidup, Bachtiar mengamen dengan pendapatan 30ribu sehari.  Bachtiar berdalih pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dua anaknya. Untuk makan saja kurang apalagi untukbiaya kesehatan Gia. Dan Gia pun mesti rela hidup terpasung.

Tapi tunggu dulu, bila Bachtiar merokok dan katakanlah setiap hari menghabiskan sebungkus rokok seharga 10.000 rupiah, seharusnya ada cukup uang untuk memenuhi kebutuhan anak. Demi memuaskan hasrat merokok. Bachtiar tega memberi makan ala kadar kepada anak-anaknya. Tega memasung anakknya. Rokok telah merampas hak anak.

Menurut Survei Nasional Sosial Ekonomi 2003 -2005 ditemukan fakta mencengangkan. Keluarga miskin lebih suka mengkonsumsi rokok ketimbang menikmati daging, telor atau susu. Rokok menduduki urutan kedua setelah beras. Mereka mengalokasikan 12,43 % pendapatan untuk membeli rokok.. Rokok lebih penting 8 kali lipat ketimbang pendidikan (1,47%), rokok 6 lebih penting kali lipat ketimbang kesehatan ( 1,99%). Bahkan keluarga miskin lebih menghisap rokok ketimbang menikmati gurihnya daging, susu dan telor. Padahal kita semua tahu, daging, susu dan telor penting bagi ketercukupan gizi terutama bagi anak-anak.

Sangat ironis bila orangtua entah bapak atau ibu atau bahkan keduanya, asyik dalam gelimang candu asap rokok sedangkan anak-anak mereka terlantar, tak mendapat asupan gizi yang cukup, tak mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan. Aturan pengendalian tembakau adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar lagi. Sebelum anak-anak Indonesia tak lagi dapat menikmati haknya.

Bila orang sudah tidak peduli pada kesehatannya sendiri, lantas ngapain Negara harus susah-susah memberikan jaminan kesehatan?Hasil Survei Nasional Sosial Ekonomi 2003 -2005 terang benderang memperlihatkan bahwa masyarakat tidak peduli kesehatan. Masyarakat lebih sayang terhadap rokok ketimbang merawat kesehatan diri dan anak-anaknya.

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta meminta semua pemegang kartu Jaminan Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin) berhenti merokok. Pemprov mempertimbangkan sanksi bagi pemegang kartu itu yang memiliki kebiasaan merokok. Kebijakan itu perlu didukung.

“Dia foya-foya membakar uang dengan rokok tetapi biaya kesehatannya minta dibayari negara. Padahal, rokok juga memperburuk kesehatan diri dan keluarganya,” kata Fauzi Bowo sebagaimana dikutip Kompas.com.

Meracuni Darah Daging Sendiri

Tak hanya hak-hak anak yang dirampas, anak juga menjadi korban menjadi perokok pasif. Gampang dijumpai seorang ayah menggendong bayi sambil merokok. Alamak sedari bayi sudah menjadi perokok pasif, dari ayahnya sendiri pula. Rumah tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman dari anak-anak karena kepungan asap rokok. Asap rokok yang keluar dari mulut orangtua sendiri. Tidakkah para orang tua itu sadar, mereka meracuni darah dagingnya sendiri.

Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2008, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (waktu itu) Meutia Hatta Swasono mengatakan bahwa 43 persen anak-anak di Indonesia merupakan perokok pasif.

“Sekitar lebih dari 43 persen anak-anak Indonesia hidup serumah dengan perokok atau menjadi perokok pasif,” kata Meneg PP sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Sementara itu dalam survei serentak WHO yang dilakukan di 100 negara secara serentak pada 2004-2006 termasuk Indonesia, terungkap bahwa 12,6 persen pelajar setingkat SMP adalah perokok dan sebanyak 30,9 persen pelajar perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 10 tahun dan 3,2 persen dari mereka sudah kecanduan.

Hasil lain dari survei itu adalah 64,2 persen pelajar setara SMP menyatakan terpapar asap rokok orang lain –perokok pasif– di rumah sendiri dan 81 persen pelajar setara SMP terpapar dari tempat-tempat umum. (Kompas.com)

Laporan dari Dr Paolo Vineis seperti yang dilansir oleh The British Medical Journal menyatakan anak-anak memiliki resiko paling besar dari para orangtua perokok.

Dampak perokok pada non perokok (perokok pasif) sudah lama diketahui. Namun bahaya mengenai orangtua perokok pada kesehatan anak-anak baru kini mengemuka. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dr Paolo Vineis disejumlah negara Eropa diketahui bahwa anak-anak mengalami dampak paling tinggi.

Yaitu sekitar tiga kali lipat terkena kanker paru-paru dan masalah yang berhubungan dengan pernafasan lainya dari orangtua yang perokok. Dr Paolo menyebut hasil penelitiannya kali ini sangat berbeda dengan penelitian dampak rokok pada kesehatan manusia.

Dr. Paolo Vineis merupakan seorang profesor dari Imperial College London (Inggris). Selama hampir tujuh tahun, Dr Paolo melakukan penelitian atas 123.000 orang dari 10 negara Eropa yang diketahui menjadi perokok pasif. Dalam kurun itu, 97 orang kemudian diketahui terkena kanker paru-paru, 20 terkena masalah dengan pernafasan dan 14 meninggal.

Resiko anak-anak terkena kanker paru-paru mengalami kenaikan sampai 3.6 kali dari orangtua perokok karena anak-anak ini telah menjadi seorang perokok pasif. Secara keseluruhan penelitian juga menunjukan resiko terkena penyakit yang berhubungan dengan paru-paru akan mencapai 30% bagi anak-anak perokok pasif ini.

Angka itu akan lebih tinggi dibandingkan dengan resiko para perokok yang sudah pensiun dari merokok. Di AS ditengarai 1900 hingga 2700 kasus kematian pada jabang bayi disebut-sebut karena mereka merupakan perokok pasif. Tidak heran Dr Paolo pun menyarankan agar sejumlah negara mulai memperkenalkan hukum untuk melindungi para perokok pasif ini.

Merokok dirumah memang tidak dilarang namun Dr Paolo menyarankan orang tua seharusnya tidak merokok di rumah saat anak-anak mereka berada disekitarnya. Dr. Norman Edelman memberikan saran lain bahwa seandainya harus merokok disarankan untuk tidak merokok diruangan tertutup. (Kapanlagi.com)

Savechildrenfromsmoke

Seakan menuruti saran tersebut, di beberapa kelurahan di Jakarta Selatan memampang poster Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Isinya 10 butir panduan bagaimana hidup sehat di rumah tangga yaitu:

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah

Poin terakhir, kesepuluh menarik yaitu tidak merokok di dalam rumah. Ini seakan senada dengan aturan kawasan khusus merokok. “Ngerokok sini aje, kasian anak bini” begitu tulisan yang menempel di dinding pos kamling di kawasan Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Walau sejatinya pos kamling tapi jugfa dipakai sebagai pangkalan ojek dan sekarang mendapat tugas baru sebagai tempat khusus merokok.

Tapi seberapa efektif aturan tersebut? Karena hanya berupa himbauan, maka pelaksaan PHBS pun tergantung dari masing-masing individu. Tidak ada sanksi bila masih ada orangtua yang merokok dalam rumah dan membuat anak-anak menjadi perokok pasif.  Meskipun bila menilik UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak bisa dikategorikan sebagai kekerasan kepada anak dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara. Baik kekerasan fisik maupun psikologis. Kekerasan fisik tentu dampak kesehatan akibat merokok pasif bagi anak-anak. Sedangkan dampak kekerasan psikologis adalah menjadi contoh yang tidak baik bagi anak. Keluarga yang terbiasa dengan perilaku merokok dan menjadi permisif dengan hal tersebut sangat berperan untuk menjadikan anaknya terutama remaja untuk menjadi perokok. Orang tua terkadang tidak menyadari bahwa setiap kepulan asap yang dihembuskan dari sebatang rokok yang dihisapnya tidak luput dari perhatian anak.

Setiap saat, detik demi detik hari demi hari, di dalam rumah sendiri, anak menjadi korban teror tembakau. Dan pelakunya adalah orangtua sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s