CALISTUNG

A – P – E – L

Apeeeeelllll

K-U-N-I-N-G

Kuuuuniiing

Ejaan Adlina masih terbata-bata namun melegakan hatiku. Baru 3 bulan masuk TK Blossom kelas A – kalo jamanku dulu disebut kelas nol kecil – Adlina sudah bisa mengeja huruf.
Masa taman kanak-kanak semestinya sangat menyenangkan. Anak-anak bermain bersama dengan teman-teman seusianya. Semesti jadi masa begitu menggembirakan. Menggemberikan bagi si anak, menggembirakan bagi orangtua, kakek nenek, paman bibi, om tante.

”Adlina udah bisa ngeja, jadi gak usah masukin les calistung deeh” kataku ke Mama. ”Mendingan, kalo masih ada waktu, Adlina les melukis aja ato musik, ngembangin bakat seni.” sambungku.
Selain belajar di TK, sejak usia 3 tahun Adlina juga mengaji di TPA Al Bayyinah. Belajar iqro yang kini sudah sampai jilid III dan hapal doa-doa harian seperti doa sebelum makan, doa kepada orangtua, doa sebelum tidur. Di Al Bayyinah juga sedikit di ajari calistung. Aku khawatir kalo hanya otak kiri yang diasah maka otak kanan Adlina tidak berkembang. Padahal menurut hasil tes sidik jari, Adlina punya bakat di bidang seni. Aku tidak ingin Adlina jadi manusia njomplang, hanya kuat di salah satu sisi otak. Keseimbangan adalah kunci hidup dan kehidupan.

Beberapa kali Mama sempat mengutarakan kekhawatiran soal kemampuan calistung yang jadi syarat masuk SD. Untuk menjawab kekhawatiranya, Mama mengusulkan Adlina masuk les calistung. Aku tidak setuju. Terlalu banyak beban pelajaran yang harus diterima untuk anak usia 4.5 tahun. Lebih baik diarahkan kegiatan yang lebih menyenangkan seperti menari, melukis atau bermain musik. Aku sempat mengajak Adlina ke Taman Suropati untuk mengenalkan musik. Setiap minggu, di Taman Suropati berkumpul puluhan orang yang belajar alat musik, biola, cello dan gitar.

Kini, tak dapat dipungkiri masa taman kanak-kanak menjadi masa menegangkan bagi orangtua. Sebabnya, untuk bisa masuk SD atau MI, mensyaratkan si lulusan TK harus bisa calistung alias baca-tulis-hitung. Bila si anak belum bisa calistung, jangan harap bisa masuk SD terutama yang menyandang predikat Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).

Sebagaimana dilansir bisnis.com Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kemendikbud, Lydia Freyani Hawadi menyatakan ”Jika praktek ujian calistung ini diterapkan SD bertitel RSBI, maka akan dilakukan evaluasi serius” http://www.bisnis.com/articles/ujian-calistung-masuk-sd-tidak-dibenarkan-di-tes-membaca-menghitung

Namun kenyataan dilapangan, kegundahan masyarakat mengenai ujian calistung terus terdengar. Orangtua Rara – nama samaran- yang tinggal di Jakarta Selatan, bercerita kalo anaknya gagal masuk SD Negeri gara-gara belum bisa calistung. Akibatnya Rara kini bersekolah di SD Swasta. Tapi ketika baru 3 bulan sekolah di SD swasta tersebut, pelajaran di kelas 1 sudah masuk materi membaca.

”Rara masih belajar ngeja, jadinya ketinggalan pelajaran” keluh ibu si Rara. Sore itu, diawal November, si ibu mendampingi Rara belajar membaca. Mungkin karena sudah tidak sabar, beberapa kali si ibu sempat membentak Rara “Masa baca gitu aja gak bisa, temenmu aja udah pada bisa baca.”

Ingatanku terlempar ke masa tahun 88 ketika aku masuk kelas 1 SD Negeri 1 Klaten. Guru kelas waktu itu ibu Aminah, seorang perempuan paruh baya yang sabar mengajar anak-anak kelas 1 menulis dan membaca. Dengan bersenjata pensil dan penghapus, kami belajar menulis abjad. Buku tulis segera belepotan dengan coretan kami.
Aku masih ingat insiden Sigit. Apa itu insiden Sigit? Ada seorang teman bernama Sigit -lupa nama lengkapnya – yang bertubuh tambun. Ketika sedang asyik menulis, tiba-tiba tercium bau kentut.
Kami sontak saling tengok dan saling tuduh. ”Kowe yo sing ngentut?”
Tidak ada yang mengaku –ato merasa- kentut. Kelas bergerak berisik, ribut saling tuduh saling sangkal.
Bu Aminah yang sedang menulis di papan tulis segera membalik badan dan mengedarkan pandangan tajam ke penjuru kelas.

”Ada yang kentut bu, bau banget” kata seorang murid seakan menjawab tatapan mata bu Aminah.

Bu Aminah turun dari podium kecil – ada semacam kayu podium di depan papan tulis agar anak-anak yang masih bertubuh kecil bisa menjangkau papan tulis, Bu Aminah termasuk guru yang berbadan kecil juga – dan mengedarkan tubuh di sela-sela meja. Hidungnya mengendus-endus. Kami terdiam, tegang. Tak sabar menunggu siapa si tersangka tukang kentut. Pencarian bu Aminah berhenti di meja depan pojok dekat pintu kelas.
Sigit dan teman sebangku – aku lupa namanya – hanya berdiam diri ketika bu Aminah menghampiri.

”Sigit, kamu kentut?”

Sigit tak menjawab. Hanya diam duduk mematung.
Beberapa kali ditanya Sigit tetap tak menjawab. Muka dan leher Sigit berpeluh.

”Kalo sakit perut, ke WC dulu sana” perintah bu Aminah

Tapi Sigit tak segera menuruti perintah. Masih saja duduk diam.

”Oallah kowe mencret thoo”

Ternyata Sigit mencret. Kotoran merembes dari celana pendeknya sampai ke kursi. Karena tidak mau berdiri, bu Aminah memanggilkan penjaga sekolah untuk membawa Sigit ke WC. Karena Sigit tak mau beranjak dari bangkunya, akhir si penjaga sekolah mengangkat Sigit beserta kursinya dibawa ke WC belakang sekolah.

Beranjak ke kelas 2, naah aku lupa deeh siapa wali kelasnya, kami belajar menulis latin. Ada buku bergaris tiga, garis lebar diatas dan garis sempit dibawah sebagai wahana menulis latin.

Di kelas 3, kami sudah lancar membaca menulis dan berhitung. Dan Sigit masih menjadi teman sekelas. Suatu hari ketika main ke rumah Sigit yang luas – orangtua Sigit termasuk pejabat Dinas yang punya video, barang mewah kala itu – Sigit cerita kalo kejadian mencret di kelas 1 dulu gara-gara ia tegang belajar menulis dan membaca. Jadinya perut mules gak karuan-karuan dan ngebom di dalam kelas.

Aku teringat kisah Sigit dan lalu membayangkan perasaan anak-anak TK sekarang. Bila seorang siswa kelas 1 saja merasa tegang belajar menulis dan membaca lalu mengapa anak TK sudah dipaksa bisa calistung.

Si Ibu Rara bilang kalo guru SD sekarang malas mengajari murid kelas 1 belajar calistung. Pengin si guru, si anak-anak sudah bisa calistung sejak TK. Jadi di SD tinggal meneruskan pelajaran membaca.

Aaah semoga saja gerundelan si Ibu Rara tidak benar. Dan para guru sekarang masih mewarisi kesabaran bu guru Aminah mengajari para siswa SD belajar mmbaca menulis dan berhitung

Diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar “Guruku Pahlawanku”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s