Bagaimana Jurnalis Meliput Survei Politik?

BAGAIMANA JURNALIS MELIPUT SURVEI POLITIK?

Aditya Wardhana jurnalis, sedang menuntut ilmu Master of Journalism di Ateneo University

Jelang pemilu, situasi politik semakin memanas. Partai politik berlomba mempercantik tampilan. Spanduk para calon legislative merampok setiap ruang public yang kosong. Beberapa tokoh sudah mendeklarasikan diri untuk maju berebut kursi kepresidenan. Banyak yang tokoh lain malu-malu tapi mau. Tak kalah seru, lembaga survey mempublikasi hasil temuan mereka. Dan media menyantap sajian survey dengan lahap, kadang lupa apakah pemberitaan mereka bisa member pencerahan bagi pembaca/pendengar/pemirsa atau malah sebaliknya.

Salah satu topic bahasan dalam mata kuliah Advanced Writing and Reporting adalah mempelajari number and polls. Sang dosen Kim Kierans, professor jurnalisme dari University Halifaz Canada memberi bacaan, apa yang harus dilakukan jurnalis ketika meliput survei atau jajak pendapat

Berikut poin-poin yang harus diperhatikan jurnalis :

  1. Metode Sampling : metode sampling digunakan untuk menentukan responden yang tepat dan dipilih secara acak. Jajak pendapat bukanlah sensus. Bagaimana anda yakin responden dipilih secara acak (random). Kebanyakan jajak pendapat mewawancarai lewat telepon. Apakah surveyor memastikan identitas dan tipe spesifik dari responden, jenis kelamin, usia, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, dsb. Bahkan ada survey yang menampilkan bagaimana sikap pendukung partai 1 terhadap tokoh A. bagaimana bisa yakin si responden adalah pendukung partai 1? Apakah lembaga survey bisa menunjukan buktinya? Dengan menjamurnya internet dan polling di internet, bagaimana bisa memastikan ketepatan responden?
  2. Pertanyaan : Sangatlah mudah untuk mempengaruhi jawaban melalui tipe pertanyaan yang digunakan oleh lembaga survey. Di Amerika Serikat sudah banyak studi tentang perilaku lembaga survey yang mengarahkan jawaban lewat jenis pertanyaan. Partai politik pun memanfaatkan lembaga survey untuk mempengaruhi para pemilih. Di Indonesia, belum banyak kajian tentang ini. Sebelum menulis berita, jurnalis harus membaca semua pertanyaan dan jawaban para responden.  Cantumkan pertanyaan ini dalam berita yang anda muat. Masyarakat bisa menilai apakah pertanyaan tersebut objektif atau ada unsur-unsur yang mempengaruhi responden.
  3. Siapa yang melakukan survei? Beberapa lembaga mempunyai kredibilitas lebih baik. Tapi ingat pelajaran Pilgub DKI Jakarta. Semua lembaga survei menampilkan Fauzi Bowo alias Foke akan kembali memimpin Jakarta. Namun kenyataan mengatakan sebaliknya, Jokowi-Ahok yang menang.
  4. Siapa yang membiayai survei? Jurnalis harus memberitahu kepada pembaca, siapa yang membayari survei ini. Tentu lembaga survei berkilah bahwa mereka bekerja secara independen dan objektif terlepas siapa yang membayari. Tapi ingat. There’s no free lunch!!!!!
  5. Kapan survei dilaksanakan? Survei adalah snapshot, cuplikan “gambar” dalam kurun waktu tertentu. Hasil survei harus segera diumumkan setelah dilakukan. 2 minggu adalah batas waktu maksimal. Situasi di lapangan sangat dinamis dan cepat berubah. Survei yang dilakukan bulan Juni lantas diumumkan di bulan November tentu sudah basi, tidak lagi mencerminkan situasi yang tengah terjadi.
  6. Selang kepercayaan : Ini bahasa statistik. Jurnalis biasanya kurang nyaman ketika bekerja menghadapi angka, persentase, metode statistic. Jurnalis terbiasa bekerja dengan kata-kata dan/atau gambar.  Hal yang saya tidak duga ketika mengambil kuliah Master of Journalism di Ateneo University adalah menyelesaikan tes matematika dan statistic. OMG!!!! Saat kuliah S1 di Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya, saya harus mengulang 3 kali, baca lagi mengulang 3 kali mata kuliah Statistika Dasar. Jika anda dapat nilai A untuk statistika dasar, anda lebih cerdas secara angka ketimbang saya hahahaaa. Tapi bolehlah diadu soal menghitung uang, saya pasti juara hahahaa. Buku pegangan statistika dasar berwarna biru muda tapi saya lupa siapa penulisnya. Ada yang ingat? Saya harus menempuh semester pendek agar bisa lulus “neraka” Statistika Dasar. Neraka itu kembali saya temui di program amster of Journalism di mata kuliah Advanced Writing and Reporting. Hasilnya lumayan, saya bisa menjawab benar 20 dari 25 pertanyaan. Seorang teman yang bekerja di media ekonomi malah lebih parah, cumin bener 15. Katanya faktor umur semakin tua mempengaruhi kemampuan berhitung hahahahaa. Ngeles broo.  Kembali ke selang kepercayaan, anda jangan lupa menuliskan tingkat selang kepercayaan di berita yang anda buat. Umumnya, survei dengan selang kepercayaan dibawah 90% susah untuk dipercaya. Dan anda tak usah repot untuk memberitakannya. Masuk keranjang sampah saja.
  7.  Margin of error : Anda harus memperhatikan besaran margin of error. Cantumkan juga dalam berita yang anda muat. Margin of error berkisar antara 3%-5%. Contoh yang menarik adalah quick count di Pilgub Bali. Hanya ada dua kandidat yang bersaing ketat dengan selisih tak sampai 1%.

Berikut table margin of error

This is the scientific table of what pollsters use to determine margin of error.

Table: # interviewed = margin of error 19/20

l  500 people    = 4.5 percentage points

l  1000 people  = 3 percentage points

l  1200 people  =  2.5 percentage points

l  2500 people  = 2 percentage points

l  4000 people  = 1.5  percentage points

Semakin pusing terhadap angka? Hahahaa tenang saja. Anda bukan satu-satunya. Mungkin editor atau pimred anda malah lebih puyeng “dealing with numbers, percentage and statistic.”

Don Gibbsdalam artikel “Color of Money” kasih tips : pertama, undang guru matematika, professor atau ahli soal statistika untuk mengajari para jurnalis di newsroom anda. Tips kedua, rekrut jurnalis/editorr lulusan Statistik yang sewaktu-waktu bisa membantu jurnalis lain di newsroom ketika berjibaku dengan angka.

Naah selamat menikmati peliputan angka-angka. Berita yang bagus adalah memanusiakan angka-angka tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s