Pergulatan Kareem Abdul Jabbar

140404145926-kareem-abdul-jabbar-pointing.1200x672

Nama ibarat brand atau merk.

Banyak selebriti mengganti nama supaya lebih tenar. Contohnya Sean Combs jadi Puff Daddy lalu Diddy jadi P. Diddy. Namun perubahan namaku dari Lew Alacindor menjadi Kareem Abdul Jabbar bukan sekadar perubahan brand apalagi merk mengejar ketenaran. Ini adalah transformasi hati, pikiran dan jiwa.

Bagi kebanyakan orang, berpindah agama merupakan urusan personal yang melewati pergumulan hebat. Tapi ketika anda adalah orang terkenal, urusan personal ini bisa menjadi heboh, disorot banyak orang. Terlebih lagi anda ganti agama yang tidak populer dan tidak familiar bagi lingkungan anda. Hal ini memancing perdebatan dan kontroversi. Meski Aku sudah menjadi Muslim lebih dari 40 tahun namun pertentangan itu masih terjadi.

Aku mengenal Islam pertama kali ketika baru masuk di University of California, Los Angeles UCLA. Sebagai atlit basket, Aku sudah menorehkan prestasi secara namun Aku tetap menjaga kehidupan pribadi.. Ketenaran tidak memberi rasa nyaman dan ketenangan. Aku masih muda, belum pandai berbicara di depan publik.

Aku tidak menyukai hura-hura dan popularitas. Selain bermain basket, aku terus berusaha untuk kuliah dan menimba ilmu. Waktu itu era 66-67 adalah era pergolakan bagi kulit hitam. Tokoh pergerakan kulit hitam, James Meredith diserang ketika melakukan aksi di Mississippi.  Si penyerang adalah James Norvel, seorang kulit putih, meski diputus bersalah di pengadilan namun motif penyerangan tak terungkap.

Kerusuhan rasial di Detroit yang menelan korban 43 tewas, 1.189 terluka dan lebih dari 2.000 bangunan hancur.

Aku lahir 16 April, 1947 di New York, anak semata wayang dari Cora Lilllian ibuku yang bekerja di pasar swalayan dan ayahku, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, seorang polisi dan musisi Jazz. Ayahku seorang polisi yang sangat disiplin. Sejak kecil aku belajar di sekolah Katolik dibawah pengawasan ketat Pastor dan Suster. Dengan tinggi badan menjulang lebih dari 2.1 meter bak raksasa namun modal yang bagus untuk basket. Aku giat bermain basket dibawah pelatih yang juga disiplin. Pemberontakan merupakan kata yang asing bagiku. Tapi aku tidak merasa bahagia. Tumbuh di era 60an tidak banyak tokoh kulit hitam yang bisa dijadikan panutan. Aku mengagumi Martin Luther King Jr yang pemberani dan Shaft yang gampang mendapatkan cewek. Di sisi lain, masyarakat kulit putih memandan kaum kulit hitam sebagai biang masalah, merampas pekerjaan dan anak perempuan mereka.

Buku “The Autobiography of Malcolm X” mengunggah kesadaranku. Aku terpaku membaca perjalanan hidup Malcolm X yang dipenuhi jalan terjal. Ku Klux Klan menyerang dan membakar rumah keluarga Malcolm X. Pengalaman buruk itu membuka pandangan Malcolm X, bahwa Kristen adalah agama kulit putih yang melanggengkan perbudakan.

Transformasi Malcolm X dari penjahat menjadi pemimpin politik menginspirasiku. Islam menolong Malcolm X, menuntun dan memberi kekuatan Malcolm X menghadapi pergolakan antara kulit hitam dengan kulit putih. Lalu aku mulai mempelajari Al Qur’an.

Keyakinan dan Tentangan

 

Keputusanku untuk memeluk Islam menghadapi tantangan dan tentangan yang tidak mudah. Namun apapun itu, aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapinya. Aku belajar Islam pertama kali dari Hammas Abdul Khaalis, mantan pemain drum. Tahun 1971 ketika aku berumur 24 tahun, aku resmi memeluk Islam dan berganti menjadi Kareem Abdul Jabbar yang artinya orang yang mulia, pelayan Allah.

Pertanyaan yang kerap ditujukan padaku, mengapa aku memilih agama yang (waktu itu) asing bagi budaya Amerika bahkan orang pun susah untuk menyebut namaku, Kareem Abdul Jabbar. Aku menolak bila ada yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang asing dan aku mewarisi tradisi Afrika kulit hitam. Diperkirakan 15-30% budak dari Afrika adalah Muslim. Banyak penggemarku yang mengira aku bergabung dengan Nation of Islam, organisasi pergerakan Muslim Amerika yang dibentuk di Detroit pada tahun 1930. Meskipun aku banyak dipengaruhi oleh Malcolm X, pemimpin Nation of Islam namun aku tidak bergabung ke Nation of Islam. Aku lebih fokus pada spiritual ketimbang aspek politik.

Malcolm X
Malcolm X

Orang tuaku membenci keputusanku memeluk Islam. Walaupun mereka bukan termasuk Katolik yang taat namun mereka sejak kecil mendidikku untuk menjadi penganut Kristus yang patuh dan menjalankan ajaran Injil. Aku senang belajar sejarah. Aku tahu bahwa Konsili Vatikan kedua tahun 1965 menyatakan perbudakan adalah perbuatan keji yang menghina Tuhan dan meracuni masyarakat. Namun bagiku pernyataan itu tidak cukup dan terlambat. Kegagalan gereja dalam menggunakan pengaruhnya untuk menghapus perbudakan membuatku marah.

Aku berusaha menjalankan Islam secara kaffah. Bahkan aku setuju untuk menikahi perempuan yang disarankan oleh guruku daripada menuruti kehendakku sendiri. Aku juga mengikuti saran Hammas agar tidak mengundang orangtua pada pernikahanku, sebuah kesalahan yang butuh waktu lama untuk menebusnya. Terkadang, aku ragu dengan beberapa nasihat Hammas, namun keraguan itu aku tepis dengan memperdalam ilmu agama.

Aku belajar agama tidak hanya pada satu sumber, satu guru. Aku terus mempelajari Islam dari berbagai sumber. Aku kerap berbeda pendapat dengan Hammas mengenai beberapa hal, kamipun lalu berpisah. Tahun 1973, aku pergi ke Libya dan Arab Saudi untuk belajar bahasa Arab, sehingga aku bisa memahami Al Quran secara langsung. Dari perjalanan ini, pemahamanku terhadap Islam semakin matang.

Kebanyakan oimagesrang menganut agama yang sama sejak mereka lahir, semacam warisan keluarga, Kepercayaan yang mreka anut bersumber dari keluarga dan budaya bukan dari pencarian yang hakiki. Bagi orang yang berpindah agama lalu memeluk Islam tentu menghadapi tentangan. Islam adalah kombinasi kepercayaan dan logika, jadi kami yang berpindah menjadi Muslim punya alasan yang sangat kuat ketika meninggalkan tradisi dan budaya lama. Berganti agama adalah urusan yang sangat beresiko kehilangan dukungan dari keluarga, teman dan lingkungan lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s