The Beaches of Agnes

beaches of agnezKebaya lagi, sanggul lagi….

Seakan kita sudah kering gagasan untuk memperingati Hari Kartini yang selalu berulang setiap tahun di bulan April

Namun, acara berikut ini bisa jadi pilihan untuk turut merenungi kembali makna perjuangan Kartini dan hakikat emansipasi perempuan.

Selain diskusi, digelar juga pemutaran dokumenter berjudul The Beaches of Agnes film autobiografi Agnes Varda, sutradara kelahiran Perancis 1928.

Liat dulu cuplikannya di mari

Bagus kagak filmnyeee? Kalo pengen liat yang versi panjang, dateng aja kemari

Yth. Jurnalis,  Aktivis Perempuan, dan Akademisi

Di Jakarta

Dengan hormat,

Divisi Perempuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta, Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI), Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), dan Institut Francais Indonesia (IFI) bekerjasama menggelar diskusi bertema “Kondisi Pekerja Perempuan di Industri Media”.

Untuk itu melalui surat ini kami mengundang Anda untuk menghadiri acara yang akan diselenggarakan pada :

Hari, tanggal : Selasa, 21 April 2015

Tempat           : Institut Francais Indonesia (IFI), Jl. MH Thamrin No 20 Jakarta

Susunan acara

15.00 WIB       Registrasi

16.00 WIB       Diskusi “Kondisi Pekerja Perempuan di Industri Media”

  • “Fotografer Perempuan: Potret Kebijakan di Media Internasional”,Enny Nuraeni (mantan Kepala Editor Foto Reuters Indonesia).
  • “Hak-Hak Pekerja Perempuan di Media Nasional dan Jenjang Karir”,Lasti Kurnia  (fotografer Kompas).
  • “Regulasi yang Diskriminatif Terhadap Perempuan”, Masruchah (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan)
  • “Nasib Jurnalis Perempuan di Tengah Konglomerasi Media”, Luviana (AJI Jakarta)
  • “Perempuan Memandang Media”, Listyowati (Tim Beijing/CEDAW Working Group Indonesia)

18.30 WIB       Pemutaran film “The Beaches of Agnes

Sebuah film dokumenter oleh dan tentang Agnès Varda, salah satu director era French New Wave (Nouvelle Vague) yang masih hidup. Dokumenter mengisahkan perjalanan spiritualnya berkarya sebagai sutradara. Banyak penggalan cerita  menarik, mulai dari tema perempuan yang setia dibawa Agnès ke dalam film-filmnya sejak dulu, hingga eksplorasi gaya visualnya yang unik dan kecintaannya pada fotografi.

20.30 WIB       Selesai

Untuk informasi dan konfirmasi kehadiran dapat menghubungi Saudari Annisa Yusyda melalui email ajijak@cbn.net.id atau telepon (021) 789-4105. Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas kehadirannya kami mengucapkan terimakasih.

Jakarta, 16 April 2015

Hormat Kami,

Ahmad Nurhasim

Ketua AJI Jakarta

 

 

TOR Diskusi dan Pemutaran Film Memperingati Kartini: The Beaches of Agnes

“Semangat Kartini: Media dan Kondisi Jurnalis Perempuan di Indonesia”

 

Divisi Perempuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerjasama dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI), Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan Institut Francais Indonesia (IFI).

Setelah reformasi, Indonesia memasuki massa kebebasan pers dan keterbukaan informasi. Hal ini ditandai dengan keterbukaan masyarakat dalam memberikan kritik melalui media baru seperti: twitterfacebook, dll. Namun massa ini bukannya tanpa catatan. Setelah lepas dari masa orde baru, pers Indonesia tumbuh secara liberal (pers liberal).

Di masa ini seharusnya suara publik/masyarakat banyak didengar, namun justru yang terjadi sebaliknya: sejumlah media hanya melayani informasi terkait kehidupan elit, merendahkan perempuan melalui tayangan sinetron, berita dan iklan yang bias gender, bahkan pada Pemilu 2014, media digunakan untuk kepentingan politik praktis. Pemilik media penyiaran misalnya menggunakan medianya untuk kepentingan peruntungan ekonomi dan politik/partainya.

Semua mekanisme pers akhirnya ditentukan oleh pasar dan kekuasaan pemilik media.

Walaupun di masa sekarang porsi konten terhadap perempuan meningkat jumlahnya seiring jumlah media yang jumlahnya juga jauh lebih banyak dibandingkan di masa Orde baru (di jaman orba jumlah media di Indonesia kurang lebih: 350 media, namun di masa reformasi jumlah media menjadi kurang lebih: 3000 media). Namun perempuan masih  dikonstruksikan di dalam sinetron, iklan dan berita secara stereotip sebagai: orang yang emosional, cerewet, sangat senang mengurusi persoalan personal orang lain, cengeng.

Siaran informasi dan komunikasi yang sehat bagi publik perempuan dan anak yang seharusnya diproduksi sebagai wujud demokratisasi media menjadi jarang kita lihat. Yang terjadi: perempuan dilihat hanya sebagai konsumen, di media onlineperempuan banyak mendapatkan kekerasan dan stereotip. Padahal seharusnya persoalan marjinal seperti perempuan dan anak bisa masuk menjadi bagian isi di media.

Selain itu, masih lemahnya pendidikan publik yang lemah melalui konten isi media membuat isu perempuan dan anak menjadi minim mendapatkan peran di media.

Sedangkan kondisi jurnalis perempuan di Indonesia juga menjadi catatan tersendiri. Jumlah jurnalis di Indonesia, seperti yang banyak dikutip media massa, mencapai 14.000 ribu yang tersebar di berbagai jenis media dan daerah. Dari jumlah itu, 10 persennya jurnalis perempuan. Jumlah yang cukup kecil dibanding dengan jumlah jurnalis laki-laki.

Bukan hanya kecil di tingkat jumlah. Berdasarkan riset Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia pada 2011 di tujuh kota di Indonesia dengan 135 responden, menunjukkan

hanya 6 persen jurnalis perempuan yang menduduki posisi sebagai redaktur maupun pengambil keputusan di redaksi. Akibatnya, pengambilan kebijakan di redaksi didominasi laki-laki yang lebih maskulin.  Jurnalis perempuan 40 persen statusnya sebagai pekerja kontrak dan 72 persen berstatus lajang.

Penelitian tersebut juga menunjukkan jurnalis perempuan belum banyak yang mengambil jatah untuk cuti haid karena kurang begitu populernya hak cuti haid ini. Para perempuan jurnalis yang sedang menyusui juga belum diberikan waktu khusus untuk menyusui. Tidak ada perbedaan gaji antara jurnalis perempuan dan laki-laki, namun survei menunjukkan gaji jurnalis perempuan masih dibawah standar Upah Layak Jurnalis. Persoalan lainnya, belum banyaknya perusahaan yang menyediakan ruang khusus untuk menyusui. Masalah lainnya, 51,8 persen jurnalis perempuan belum mendapatkan fasilitas peliputan di malam hari.

Diskriminasi dan pelecehan juga masih kerap dialami jurnalis perempuan. Sebanyak 6,59 jurnalis mengalami diskriminasi dan 14,81 persen mengalami pelecehan ketika bertugas. Tak jarang narasumber mengajak berkencan jurnalis perempuan.Di Pontianak dan Jayapura, jurnalis perempuan yang mengalami pelecehan cukup besar, masing-masing 44,44 persen dan 66,67 persen.  Daerah konflik tampaknya menjadi tempat subur terjadinya pelecehan.

Sebagian besar kasus-kasus pelecehan seksual yang menimpa jurnalis perempuan belum teradvokasi karena korban merasa malu jika masalah tersebut diketahui publik. Kendala lainnya adalah tidak ada dukungan pendampingan dari perusahaan media terhadap korban karena menganggap pelecehan tersebut adalah risiko pekerjaan.

Diskusi kali ini akan mengangkat perspektif jurnalis perempuan yang berposisi sebagai reporter, pewarta foto, dan video journalist yang kerap memiliki persoalan dalam pemenuhan hak-hak pekerja. Jurnalis perempuan kerap menghadapi diskriminasi dalam ruang kerja dan rentan menjadi korban pelecehan seksual saat berkerja. Diskusi ini juga akan membahas kondisi pekerja media lepas dan pembentukan serikat pekerja yang berperspektif perempuan. Kegiatan ini kami harapkan bisa memberikan perspektif baru dan mengkampanyekan pemenuhan hak hak pekerja perempuan di media.

Lewat pemutaran film karya Agnès Varda, The Beaches of Agnes, akan menjadi refleksi masalah-masalah yang menyelimuti pekerja perempuan di media. Agnès Varda adalah pembuat film dokumenter asal Prancis yang memulai karirnya sebagai fotografer teater. Ia termasuk dalam kelompok pembuat film French New Wave, kelompok dokumentarian yang merevolusi bentuk film Prancis yang semula mengadaptasi sastra, menjadi bentuk kritik sosial. Agnès juga dikenal sebagai sineas yang memiliki perspektif berbeda, dan menerapkan terminologi baru dalam industri film Prancis.

Karya-karya Agnès telah memenangkan 42 kategori dan masuk dalam 15 nominasi di beberapa ajang penghargaan film di Eropa. Pada 2008 Agnès membuat film auto dokumenter berjudul The Beaches of Agnes. Film ini menguraikan kehidupan Agnès sebagai fotografer teater, pembuat film dokumenter, serta keterlibatannya dengan gerakan feminisme.

R.A. Kartini adalah perempuan yang memberikan pelajaran penting soal bagaimana perempuan bersuara dan memberikan pendidikan literasi melalui media. Ia mengajarkan bagaimana sebuah tulisan kemudian menjadi media bagi mulut yang bisu dan bagaimana mengajarkan pendidikan literasi kepada publik. Hal ini merupakan perjuangan yang harus dilakukan para penulis dan para jurnalis perempuan di Indonesia.

Melalui film ini maka kita akan memetakan kondisi jurnalis perempuan di Indonesia dan semangat yang dibangun Kartini melalui tulisan dan ajakan untuk melakukan literasi media di Indonesia.

Tujuan

  1. Meningkatkan pemahaman atas masalah yang dihadapi pekerja perempuan di industri media, termasuk termasuk reporter dan fotografer, dalam mendapat hak-haknya, jaminan keamanan, serta keselamatan saat bekerja.
  2. Mencari rumusan solusi dari masalah yang dihadapi pekerja perempuan di industri media.

Kegiatan

Diskusi dan pemutaran film dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal   : Selasa, 21 April 2015

Waktu             : – Pukul 16.00-18.00: Diskusi

– Pukul 18.30-20.30:  Pemutaran film

Tempat            : Institut Francais Indonesia (IFI), Jl. MH Thamrin No 20 Jakarta

Pembicara:

  1. Enny Nuraeni (mantan Kepala Editor Foto Reuters Indonesia)

Potret Kebijakan Tenaga Kerja Perempuan di Media Internasional

Topik yang akan dibahas adalah bagaimana potret kebijakan ketenagarkerjaan berperspektif perempuan di media internasional. Bagaimana persoalan-persoalan yang dialami pekerja perempuan di media yang berhubungan dengan  pemenuhan hak cuti, diskriminasi gender dalam sistem pengupahan dan perlindungan terhadap pekerja perempuan dalam kondisi yang rentan pelecehan saat peliputan.

  1. Lasti Kurnia  (fotografer Kompas)

“Hak-Hak Pekerja Perempuan di Media Nasional dan Jenjang Karir”

Topik pembahasan mengenai pemenuhan hak hak pekerja perempuan yang berhubungan dengan pemenuhan hak cuti, diskriminasi gender dalam sistem pengupahan dan jenjang karir, serta perlindungan terhadap pekerja perempuan.

  1. Masruchah (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan)

“Regulasi yang Diskriminatif Terhadap Perempuan”

Topik pembahasan adalah memaparkan apa saja bentuk-bentuk regulasi yang diskriminatif terhadap perempuan yang membatasi kebebasan berekspresi, membatasi pengembangan kapasitas perempuan, hak atas rasa aman dan menimbulkan stereotip negatif terhadap perempuan.

  1. Luviana (AJI Jakarta)

“Nasib Jurnalis Perempuan di Tengah Konglomerasi Media”

Topik pembahasan mengenai persoalan-persoalan pekerja perempuan yang menjadi korban atas konglomerasi media.

  1. Listyowati (Tim Beijing/CEDAW Working Group Indonesia)

“Perempuan Memandang Media”

Topik yang disampaikan adalah bagaimana membentuk pemberitaan yang memiliki perspektif perempuan dan kebijakan atau tata kelola media yang berpihak pada kepentingan perempuan.

Penyelenggara

Institut Francais Indonesia bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Pewarta Foto Indonesia (PFI), Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI), dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.

Penutup

Keadilan bagi perempuan, termasuk jurnalis dan fotografer perempuan, harus terus menerus diperjuangkan.  Menyebarkan pemahaman dan pengetahuan yang berpihak kepada perempuan merupakan bagian dari proses tersebut. Karena itu, pemutaran film dan diskusi ini menjadi penting.

Jakarta, 16 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s