MayDay against Modern Slavery

CD4yNCXUgAAfSOD

Tangisan anak kecil diantara keriuhan pasar Ukaz Mekah menghentikan langkah Hakim bin Hizam. Seorang anak dijajakan sebagai budak. Tanpa tawar-menawar, didorong rasa kasihan, Hakim menebus anak itu.

Anak itu berama Zaid bin Haritsah.

Kawanan perampok berhasil melarikan Zaid dari keluarganya lalu menjualnya sebagai budak.

Setelah membayar, Hakim mengajak Zaid pulang. Di sepanjang jalan, Hakim berusaha menghibur Zaid agar tidak bersedih. Hakim berjanji akan memperlakukan Zaid dengan baik.

Setelah beberapa lama tinggal bersama, Hakim berencana memberikan Zaid kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid. Hakim yakin, Khadijah akan memperlakukan Zaid lebih baik.

for-sale-worker

Suatu pagi, Hakim mengajak Zaid ke rumah Khadijah.

Perempuan kaya raya ini senang sekali dan berjanji memperlakukan Zaid dengan baik. Khadijah berniat memberikan Zaid kepada suaminya Muhammad al-Amin sebagai hadiah.

Waktu itu Muhammad belum diangkat menjadi seorang rasul, tetapi dia adalah seorang lelaki terhormat dari suku Quraisy yang sangat terkenal dengan keluhuran akhlaknya. Kepadanyalah Zaid kemudian diberikan. Tak ayal, meski menjadi seorang budak, Zaid merasa bersyukur memiliki majikan orang-orang yang baik dan mulia. Majikannya yang pertama, Hakim bin Hizam, memperlakukannya dengan baik. Dia tidak pernah dipukul atau disiksa layaknya budak pada masa itu.

Majikannya yang kedua, Khadijah binti Khuwailid, juga memperlakukannya dengan baik, bahkan lebih baik dari perlakuan Hakim. Sementara majikannya yang ketiga, Muhammad al-Amin, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang seolah-olah Zaid adalah anaknya sendiri. Maka pantaslah jika Zaid merasa bersyukur atas nasib yang menimpanya. Rasa syukur itu kian hari kian bertambah, hingga kemudian Zaid merasa sangat kerasan tinggal bersama keluarga Muhammad. Apalagi ketika suatu hari terjadi suatu peristiwa yang tak mungkin terlupakan seumur hidupnya. Saat itu Muhammad memanggilnya.

“Sejak detik ini engkau menjadi orang merdeka, Zaid”

Ucapan Muhammad itu dirasakan Zaid bagaikan petir di siang bolong. Dia hampir-hampir tidak percaya mendengarnya. Andai bukan Muhammad al-Amin yang mengatakannya, mungkin Zaid akan menganggapnya sebagai bualan belaka. Betapa tidak, budak adalah harta yang berharga ketika itu. Seseorang dapat memiliki budak dengan cara membeli, padahal harga budak kadang bisa sangat tinggi. Maka, untuk memerdekakan seorang budak juga dibutuhkan uang yang tidak sedikit. ltulah mengapa kata “merdeka” bagi seorang budak seperti mimpi, sebab sebuah kemerdekaan mesti ditebus dengan harga yang sangat mahal. Seorang budak seperti Zaid hampir tidak ada harapan untuk mampu menebus dirinya. Maka, begitu mendengar ucapan majikannya itu Zaid tak dapat berkata-kata.
Dia tertegun sesaat, sampai didengarnya kembali Muhammad berkata, “Kini engkau bebas pergi ke mana pun engkau suka. Namun, jika mau, engkau dapat tinggal di sini bersamaku.” Begitu kata-kata yang keluar dari mulut mulia Muhammad. Mendengar kata-kata yang sangat indah itu, Zaid menangis haru.

Kelak, Zaidbin Haritsah adalah salah satu panglima Islam. Zaid gugur sebagai sahid dalam perang Mu’tah.

Islam menghapuskan perbudakan.

Ketika jaman jahiliyah, perbudakan adalah hal yang biasa. Islam menjadi agama pembebasan bagi para budak. Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam dari Ethiopia. Dengan keteguhan hati memeluk Islam, menahan siksaan, akhirnya Abu Bakar menebus dan membebaskan Bilal. Bahkan suara Bilal menyerukan adzan, panggilan Tuhan.

Islam membela kaum tertindas.

MayDay

1 Mei hari Buruh Internasional. Berjuta buruh bersatu padu berjuang demi kemanusiaan. Sistem kerja kontrak dan outsourcing menjerat manusia tak ubahnya perbudakan modern.

Outsourcing menghilangkan kepastian kerja, menghilang upah yang layak, menghilangkan jaminan kesehatan, asuransi sosial, menghilang hak berserikat.

Manusia hanya dihisap tenaganya demi memutar mesin kapitalisme. Agen-agen penyalur outsourcing tak ubahnya para pedagang budak. Job fair yang dibuka tak ubahnya pasar Ukaz, pasar budak di Mekah dahulu kala. Manusia dikumpulkan lalu disalurkan ke berbagai pekerjaan tanpa upah layak dan perlindungan sosial.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa`: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antaramu.” [An-Nisaa ; 29]

Lemahnya posisi tawar pekerja outsourcing, sebagian hak mereka disunat oleh para agen penyalur. Bila ada masalah, para pekerja akan ditendang, diombang-ambingkan, agen tidak mau tanggungjawab, perusahaan penerima pun berkelit.

Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah, Nabi Muhammad Saw bersabda: “berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”

Para pekerja outsourcing menerima upah dibawah para karyawan tetap. Tanpa jaminan sosial, kesehatan, tanpa kepastian kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s