Pantau dan Dapur Media

Peserta+JS+12_stefanus+akim.JPG
“Santri, Kyai dan Nyai” Jurnalisme Sastrawi XII

Melalui grup facebook Yayasan Pantau, aku memesan satu buku berjudul Dapur Media. Menurut resensi, Dapur Media berisi 9 liputan media, sebagian pernah dimuat majalah Pantau, termasuk narasi Tempo dan Kompas yang ditulis Coen Husain Pontoh. Liputan lain: Jawa Pos oleh Max Wangkar, Bisnis Indonesia (Eriyanto), Suara Timor Timur (Irawan Saptono), dan Sriwijaya Pos – satu koran lokal di Palembang – oleh Taufik Wijaya. Tiga liputan terbaru datang dari Lilik HS yang menulis Kaskus, Komarudin soal Yahoo! Indonesia, plus Triharyanto yang membahas isu serikat pekerja media lewat kasus Luviana dari Metro TV. Kesemua narasi ini bercerita tentang dinamika ruang redaksi — salah satu pembahasan penting bila Anda mempelajari jurnalisme — dan dalam titik kisar tertentu menjelaskan sejarah ekonomi-politik Indonesia pasca-1965.

Kebanyakan artikel lama yang diambil dari Majalah Pantau. Semasa kuliah aku sempat berdagang buku, salah satunya Majalah Pantau. Aku membaca beberapa edisi Pantau. Awalnya tertarik dengan sampulnya yang mirip lukisan (atau memang lukisan?) Lalu aku larut dengan artikel-artikel panjang nan memikat.

Namun, di buku Dapur Media, aku tertarik dengan dapur Kaskus dan dapur Yahoo Indonesia. Meski soal Kaskus aku pernah baca buku Ken & Kaskus karangan Alberthiene Endah tentang perjuangan Ken Dean Lawadinata, pendiri Kaskus. Sedangkan kasus Luviana, sedikit banyak aku mengetahui langsung prosesnya.

Setelah memesan, aku terkenang dengan Pantau, beberapa tahun lalu aku pernah belajar disini. Diajar oleh Janet Steele dan Andreas Harsono. Merci uncle Google gampang sekali menemukan kenangan digital ini. Lewat blog Andreas Harsono aku diingatkan lagi teman-teman seangkatan. Kala itu seseorang yang ingin nyantri di kursus Jurnalisme Sastrawi Pantau mesti mengeluarkan mahar 3 juta rupiah. Voilaaa aku kenal dengan Andreas Harsono. Aku menanyakan apakah bisa mendapat beasiswa? Mahar itu sangat mahal bagiku, setara dua kali gajiku waktu itu. Andreas Harsono mengiyakan dengan memberi syarat, aku harus menulis artikel mengapa layak dapat beasiswa Pantau.

Aku lupa artikel apa yang aku tulis. Yang pasti aku diterima jadi santri Pantau, angkatan XII baca angkatan ke dua belas. Hingga kini kursus sudah mencapai angkatan ke 23 woooow serasa jadi senior haha

ketawa ala pantau-2
Ketawa Ala Pantau

Berikut kumpulan santri Kursus Jurnalisme Sastrawi angkata XII

Peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi XII

Jakarta, 18 – 29 Juni 2007
Instruktur Janet E. Steele dan Andreas Harsono

Aditya Heru Wardhana, saat ini bekerja sebagai video journalist diTrans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Ketika training broadcaster dua tahun lalu, ia mendapat tugas membaca naskah berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah. Sejak itu timbul niat ingin menulis seperti itu, yang elok dan memikat. Sejak kuliah sudah asyik membaca tulisan-tulisan di majalah Pantau. Mengikuti training jurnalisme sejak tahun 2002.

Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagairesearcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Sejak tahun 2005 selalu mengkampanyekan isu-isu yang berhubungan dengan agrarian reform, policy reform in natural management and ecological justice in Indonesia.

Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalahSwa sebagai wartawan. Pengalaman menulis sejak April 1999 ketika menjadi Kepala Publikasi dan Dokumentasi di organisasi non pemerintah Pusat Ilmu dan Kajian Perbukuan. Artikelnya sering dimuat diberbagai media masa seperti harian Pikiran Rakyat, Suara Karya, Galamedia, Suara Publik dan Risalah.

ketawa ala pantau
Ketiwi ala Pantau

Edy Purnomo, setelah lulus dari sastra Universitas Indonesia tahun 1991, Edy kemudian mulai bekerja di majalah Manajemen Produktivitas hingga 1993. Tahun 1993-2000 bekerja pada harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao tahun 2001-2002. Sejak tahun 2002 sampai sekarang bekerja di harian Investor Daily.

Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. Semasa kuliah sudah akrab dengan jurnalistik karena mengambil jurusan jurnalistik dan ikut andil pada majalah kampus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Emmy tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen, Coordinator for Gender Imago Dei Studi, anggota Gerakan Antikekerasan terhadap Perempuan Indonesia. Mendapat “Rule of Law and Independence Press Fellowship in Massachussets” di dekat Boston pada 2000.

Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup). Kebanyakan dia bercerita tentang keluarga, remaja, sedikit gaya hidup, perjalan, dan feature. Dia mengatakan tak pernah menulis tulisan yang berat. Karya yang dihasilkannya antara lain kumpulan cerita anak, novel remaja dan cerita bersambung.

Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sejak 2003 sampai sekarang menjadi Manajer Produksi (Pracetak). Secara rutin dia menulis untuk Bentara (Tajuk Flores Pos). Selain menjadi wartawan, Frans juga mengajar di Universitas Flores di Ende.

Frans S. Imung, mulai mengenal dunia jurnalistik pada awal 1997. Pertama menjadi wartawan pada majalah ekonomi, dengan fokus pasar modal, Uang & Efek (almarhum). Selanjutnya ikut membidani lahirnya majalah Investor pada masa krisis tahun 1998. Saat ini sebagai editor di majalah Investor.

Hillarius U Gani, pernah menjadi reporter Lampung Post sebelum akhirnya bergabung dengan Media Indonesia tahun 2001 sampai sekarang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pernah mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan Media Indonesia (2001), pelatihan jurnalistik pemula oleh LP3Y Jogjakarta tahun 2002 dan Jurnalistik oleh UNDP di Bogor.

Lisa Suroso, saat ini menjabat sebagai redaktur majalah Suara Baru. Menulis untuk media sejak Desember 2004. Dia juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.

Rozzana Ahmad Rony, panggilannya Nana, mengetahui kursus ini dari temannya, Alexander Mering, redaktur harian Borneo Tribune. Ia merupakan satu-satunya peserta dari Malaysia. Sejak tahun 2006, dia bekerja sebagai journalist di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.

Said Abdullah Dahlawi, mulai menulis secara profesional sejak menjadi wartawan di harian Sijori Mandiri, Batam April 2005. Sejak mahasiswa suka mengirimkan artikel yang diterbitkan Radar Mojokerto dari Kelompok Jawa Pos di Jombang, Jawa Timur dan sering diminta untuk mengisi artikel di bulletin Motive yang dikelola secara independen oleh mahasiswa.

Stefanus Akim, merupakan salah satu wartawan Equator dari Kelompok Jawa Pos, yang keluar kemudian mendirikan harian Borneo Tribune di Pontianak. Borneo Tribune sendiri mulai launching tanggal 19 Mei 2007. Sejak duduk di bangku SMA, Akim sudah bergelut dibidang jurnalistik sebagai pemimpin redaksi majalah Sidus, dilanjutkan ketika kuliah aktif sebagai anggota dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak.

Sunaryo Adhiatmoko, mulai menulis sejak di bangku SMA, belajar jurnalistik di Institut Ilmu Sosial Politik IISIP Jakarta. Pada tahun 2000 Sunaryo ikut merintis pendirian Tabloid Fikri. Juga membuat INSANI Islamic Digest majalah Islam popular. Sekali waktu pakai nama pena Arsa Wening. Menurutnya, ia menulis untuk barisan orang-orang yang kalah, kumpulan feature tentang orang-orang kecil terangkum dalam buku Merajut Masa Depan yang Terkoyak. Kini aktif menulis untuk Lembar Ziswaf di Republika yang terbit setiap Jumat selain sebagai Public Relations Manajer Dompet Dhuafa Republika.

Yayan Ahdiat, sejak 1989 menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia. Tahun 1993-1998 bergabung di Majalah VISTA-TV, kemudian menjadi redaktur majalah Sportif tahun 1998-2000, redaktur Lippostar.com tahun 2000-2002. Tahun 2002 sampai sekarang menjadi redaktur pelaksana View Magazine.

Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development. Saat ini sedang mengerjakan tesisnya di Jakarta dan tinggal bersama ibunya di daerah Kalibata. Telah bekerja di isu-isu sosial yang berkenaan dengan gender, hak azasi manusia, pembangunan, perempuan dan anak sejak tahun 1998. Yuyun tidak pernah menulis untuk media, kebanyakan dia menulis untuk esai akademis di jurnal bukan di media massa.

Dayu Pratiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s