BIKE to VOTE

Jam 11 aku mengawali genjotan. Berangkat dari rumah Cijantung. Aku melepas kacamata dan berganti kacamata renang hadiah dari Seno. Kacamata renang ini agak gelap dan minus 4. Lumayan buat meneduhkan pandangan mata di Rabu siang yang terik.
Karena belum punya tas pannier, gantinya Dry Bag Eiger kapasitas 100L jadi tas. Kegedean memang tapi daripada barang basah kehujanan.
Di gang Bengrah, berhenti sebentar di warung untuk beli air minum sembari ngelap kacamata yang berembun.
Kacamata renang ini cepat sekali berembun. Lain kali mesti dioles pasta gigi dulu sebelum dipake, seperti mau menyelam.
Di dekat sekolah Sudirman, berhenti lagi ngelap kacamata.
Di sepanjang jalan Kesehatan baru ketemu cara ngelap kacamata tanpa harus berhenti genjot.
Masuk ke Rindam Condet, si Kucing Biru kurang nyaman ditunggangi. Pedal kiri terasa bergoyang. Semakin lama goyangan semakin kencang. Aku melihat telapak kaki goyang kanan kiri ketika pedal memutar naik turun.
Waaah kenapa ini?
Kebetulan ada bengkel, entah bengkel sepeda atau bengkel sepeda motor karena dua montir yang satu beneri motor yang satu lagi pasang crank sepeda fixie.
“Pak tolong pedal goyang”
Si montir lalu melihat pedal, mengambil kunci 14 dan membukanya
“Waah ini masangnya gak pas tapi dipaksain masuk” jelas si pak montir.
Sreet sreet gak sampai lima menit beres
“Berapa pak?”
“Terserah kasih berapa” jawab si pak montir sambil lanjut masang crank fixie.
Aku membuka Dry Bag di boncengan belakang. Karena besar, butuh beberapa saat.
“Udah gak usah”
“Bentar pak, lagi ambil uang”
“Udah gak usah, gapapa”
“Terimakasih banyak ya pak” jawabku. Hatiku bergetar dengan bantuan tulus si pak montir.
Lanjut genjot. Dari jalan Kayumanis berbelok ke gang kecil menuju jembatan gantung. Gang menurun lalu di depan tegak tanjakan jembatan gantung Ciliwung. Turun dari sadel dan mendorong si Kucing Biru.
Sampai juga di jembatan. Gowes siih gak ngos-ngosan tapi mendorong sepeda naik tanjakan bikin napas sedikit memburu.
Minum seteguk air lalu lanjut lagi.
Lalu lintas Pasar Minggu padat tersendat terutama akibat putaran balik Volvo.
Lewati pertigaan Kalibata lalu lurus lalu belok kiri masuk kompleks AU Triloka.
Ini jalur favorit, banyak pohon, adem dan udara segar. Aku kerap menghirup udara dalam-dalam.
Di dekat tempat nongkrong tukang ojek, duduk sebentar sambil minum.
Sebentar lagi sampai.
Lanjut genjot. Lewati pasar Ar Riyadh. Berhenti sebentar untuk buka Dry Bag, ganti kacamata dan ambil undangan mencoblos plus KTP.
Lapangan Badminton Gelatik sudah langganan jadi TPS.
“Mana ibu, kok sendirian?” beberapa ibu bekas tetangga di Mampang nanyain Shanty yang gak ikut datang.
“Lagi repot bu” jawabku sambil menunggu nama dipanggil KPPS.
Surat suara di tangan kiri, paku di tangan kanan. Kutunaikan hak sebagai warga negara memilih pemimpin.
Gak sampe lima menit, surat suara sudah mendarat mulus di kotak dan pantatku kembali ke sadel. Tiga menit kemudian nyampe di kantor.

whatsapp-image-2017-02-15-at-2-30-31-pm

Mau foto kelingking bertinta, sepeda dan dry bag. Kalo hanya kelingking yang ngacung dikiran nyoblos nomer satu, bila kelingking dan jempol ngacung dikira milih nomer dua, bila kelingking, telunjuk dan jempol yang ngacung seperti lambang metal ntar dipikir dukung nomer 3
Yaa semua jari ngacung kecuali jari manis.

Apakah kalian tunaikan hak kalian sebagai warga negara?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s