Kebebasan versus Keamanan

PERINTAH
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jombang nonaktif Inna Sulistyowati mengaku hanya menjalankan perintah terkait pungutan liar. Perintah itu didapatnya dari Bupati Jombang nonaktif Nyono Sugarli Wihandoko.
“(Menjalankan) perintah,” kata Inna singkat.
Cuplikan berita dari detikcom mengenai perkembangan salah satu kasus suap yang tengah digarap KPK. Kasus ini melibatkan Bupati  Jombang (non aktif) dan PLT Kepala Dinas. Berita dilengkapi dengan foto Inna, perempuan setengah baya, berkerudung pink yang terus menundukkan kepala diantara todongan kamera dan mikropon wartawan.
kadinkes
Foto Inna tersebut mengingatkan aku pada ibuku. Syukurlah ibu sudah pensiun dari PNS. Jabatan terakhirnya guru Bahasa Inggris di sebuah SMA pinggiran di Klaten. Ibu bisa pensiun dengan tenang. Bermain dengan cucunya. Dan juga aktif sebagai pembina Pramuka. Aku tidak berani membayangkan bagaimana perasaan keluarga Ibu Inna saat ini. Ketika perempuan yang mereka sayangi berompi oranye bertuliskan TAHANAN KPK, melangkah terhuyung-huyung di sela jepitan rapat para pemburu berita. Hanya gara-gara menjalankan perintah atasan.
Memang, alasan hanya menjalankan perintah atasan merupakan alasan yang kerap dilontarkan para pesakitan kasus korupsi ketika mereka tersudut. Terutama para abdi negara. Apakah mereka tidak bisa menolak perintah atasan yang jelas-jelas korup, melanggar aturan dan bertentangan dengan hati nurani? Apa yang akan terjadi jika mereka menolah perintah atasan?
Aku teringat tulisan George Monbiot, jurnalis kawakan dari Inggris. Di blognya, Monbiot menulis artikel berjudul Career Advice, nasihat karir. Salah satu nasihat, Monbiot mengutip Benjamin Franklin, Bapak bangsa Amerika Serikat. Franklin berkata  whenever you are faced with a choice between liberty and security, choose liberty. Saat anda dihadapkan pada pilihan antara kebebasan dengan keamanan, pilih kebebasan.
 
Jika memilih sebaliknya maka anda malah akan kehilangan keduanya. Orang yang menjual hidupnya demi secuil pekerjaan, sekerat jabatan dan demi sesuap gaji maka orang itu menjadi murahan.Semakin anda loyal kepada institusi, semakin anda dieksploitasi dan semakin mudah anda untuk digantikan oleh yang lain.
Soal kebebasan hidup, Monbiot melakoni dengan segenap jiwa raganya. Pada tahun 1987, bersama seorang fotografer bernama Adrian Arbib, mereka berdua datang ke Indonesia. Pak Harto di jaman keemasan berkuasa. Setelah membereskan urusan perijinan masuk, Monbiot dan Arbib meliput di Papua selama enam bulan. Darah muda keduanya bergolak. Mereka menjatuhkan diri mereka ke dalam petualangan yang mengundang masalah. Mereka berjalan kaki dan mendayung perahu selama sebulan untuk menuju ke pedalaman. Karena tersesat selama beberapa hari, mereka terpaksa makan serangga dan tikus hutan untuk bertahan hidup. Monbiot nyaris mati akibat disengat lebah. Monbiot dan Arbib mendapatkan beberapa lebam akibat ulah aparat keamanan. Entah apa yang dilakukan aparat kepada bule Monbiot dan Arbib ini di belantara Papua?
Petualangan di Papua menghasilkan buku berjudul Poisoned Arrows buku pertama Monbiot.
Dua tahun kemudian, Monbiot masuk ke hutan Amazon. Kala itu Monbiot berumur 26 tahun. Di Brazil inilah, Monbiot mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Dia pertama kali berkenalan dengan gerakan sosial, para petani dan masyarakat adat yang mempertahankan tanah mereka dari para perampas. Monbiot terlibat gerakan petani di Maranhao, gerakan petani melawan para milisi yang didukung oleh tentara.
Monbiot juga menginvestigasi pencurian kayu mahoni dari hutan Amazon yang dijual ke Inggris. Salah satu yang menikmati kayu curian adalah Istana Buckhingham dalam bentuk furnitur. Hasil investigasi tersebut dituangkan ke dalam buku kedua berjudul, Amazon Watershed.
Selain buku, Monbiot juga melaporkan investigasi dalam bentuk siaran Radio dalam program Going Back. Di salah satu episode Going Back, Monbiot berhasil membongkar seorang sersan polisi yang menyiksa dan membunuh para petani di Maranhao. Episode itu selama bertahun-tahun, digunakan pelatihan keselamatan peliputan BBC sebagai contoh liputan, yang tidak perlu dilakukan.
Di tahun 1992, Monbiot kembali berpasangan dengan Arbib, berpetualang ke Afrika Timur. Mereka menginvestigasi penyerangan terhadap sebagian penduduk Kenya dan Tanzania yang hidup nomaden. Saat tinggal bersama dengan masyarakat Turkana di utara Kenya, Monbiot terjangkit malaria. Gara-gara terlambat menyadari terjangkit malaria, Monbiot hampir tewas ketika dirawat di rumah sakit Lodwar. Pengalaman ini begitu membekas bagi Monbiot. Selama masa penyembuhan, Monbiot juga mengalami psikosis, suatu gangguan kejiwaan dan mental. Saat itu adalah masa paling mengerikan dalam hidupku, ungkap Monbiot jujur. Butuh waktu berbulan-bulan agar Monbiot kembali sehat secara jasmani dan butuh lebih dari setahun memulihkan kepercayaan diri. Saking mengerikannya, selama bertahun-tahun Monbiot tak sanggup membicarakan atau menuliskan pengalaman terburuk itu.
Setelah enam tahun bergentayangan di area tropis, Monbiot kembali ke Inggris. Disana ia langsung terlibat gerakan sosial, melawan perusahaan kayu yang mengimport mahoni ilegal dari Brazil. Gerakan sosial kedua adalah menolak pembangunan jalan. Pada musim panas 1994, ketika tengah berdemo di Solsbury Hill, Monibot harus dilarikan ke rumah sakit karena dianiaya dua orang preman yang menancapkan paku ke telapak kaki Monbiot. Kedua preman juga menghancurkan tulang kering Monbiot.
Pengalaman luar biasa ganas yang pernah dilalui Monbiot. Pantas saja dia mengajarkan pentingnya manusia menjaga kebebasan.
Apakah Ibu PLT Kadinkes Kesehatan Inna Sulistyowati akan dihajar tulang keringnya karena menolak perintah korup dari Bupati Jombang?
Aku menebak, paling Ibu Inna hanya dilorot dari jabatannya, menjadi PNS biasa sajaah. Dan mungkin status PNS biasa sajah itu namun penuh kebebasan sedang dirindukan oleh Ibu Inna dari balik jeruji KPK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s