Bukan tentang Medium

Saya bahagia, hampir seminggu tak buka Fesbuk.

facebook-1799691_960_720

Kamis pagi terpaksa buka Fesbuk karena sedang menulis surat klarifikasi. Saya perlu mengecek fakta, nama seseorang, agar tak salah tulis. Harus akurat. Karena seminggu tak buka Fesbuk, saya keterusan. Tidak hanya ngecek nama tapi juga tergoda membaca-baca status. Ada dua status yang begitu aduhai. Status pertama yang begitu menyentuh hati, bercerita soal bapak dan anak. Kamerad Fauzan Mukrim begitu gemulai menuliskan pengalaman naik busway menjadi kisah yang mencerahkan. Meski saya sering colek-colek tubuhnya yang tambun, namun saya belum ketularan juga keluwesan menulis Papa RR, River and Rain. Fauzan Mukrim yang akrab disapa Ochan merupakan penulis renyah. Topiknya sederhana namun untaian kalimat mampu menerbangkan pembacanya ke langit ketujuh atau malah menenggelamkan pembaca ke dasar palung paling kelam. Sederhana namun reflektif. Gara-gara seminggu tidak buka Fesbuk, saya sanggup menamatkan buku ketiga Ochan, Berjalan Jauh.

Saya mengenal Ochan tiga belas tahun yang lalu, di lantai tiga gedung Transtv. Saat itu, lantai tiga merupakan lantai ruang berita Transtv. Banyak program keren yang dirangsang, dibuahi, dikandung dan dilahirkan di lantai tiga. Sebut saja Good Morning, Reportase, Kupas Tuntas, Kejamnya Dunia, Sisi Lain, Fenomena, Reportase Investigasi, Kejamnya Dunia, Jika Aku Menjadi dan masih banyak lagi. Programnya keren, judul program simple, mudah diingat dan berpotensi menjadi kenangan.

Saya mengenal Ochan sebagai senior karena beliau sudah terlebih dahulu dua tahun berkarya di lantai tiga. Ketika beliau menelurkan buku ketiga Berjalan Jauh, saya bergegas menginbox beliau agar disisakan barang satu eksemplar. Kami memang kerap bertemu setiap hari di lantai 3, yang kini berubah peruntukan menjadi ruang berita CNN Indonesia TV tapi saya merasa wajib inbox per fesbuk agar pesanan saya tidak tercecer. Fans beliau meruap. Dari ayah dua anak hingga dokter berpengalaman. Inbox fesbuk penting karena beliau pesbuker akut. Tiada hari lewat tanpa menulis tatus, tiada hari tanpa berkomentar dan mengkomentari komentar. Kalo saya WApri beliau takutnya pesan saya tertimbun di dasar layar LCD telpon pintar, diinjak pesan grup-grup yang beliau ikuti.

Saya sudah tamat baca Berjalan Jauh. Dan selama tiga belas tahun mengenal beliau, Fauzan Mukrim, perjalanan paling jauh yang pernah kami lalui berdua hanyalah bersebelahan ketika pipis di toilet kantor.

Status kedua ditulis Chief Nezar Patria tentang Nyak Sandang, yang tulus menyumbang demi tegaknya Republik Indonesia. Kumpulan sumbangan dari Nyak Sandang dan masyarakat Aceh lain digunakan untuk membeli pesawat Seulawah. Saya pernah replika Seulawah di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Di paragraph akhir bang Nezar menulis Memang, Aceh dan Indonesia yang pernah dan terus dibelanya tak selalu punya hubungan manis, tapi juga bukan sebuah cinta yang gampang hilang dari ingatan. Semoga republik makin kuat, dan Aceh makin hebat.

Bagi saya status-status tersebut, meyakinkan diri bahwa Indonesia gak bakal bubar 2030, Insha Allah, Barakallah.

#Ini postingan saya pertama di Medium. Semoga ada postingan selanjutnya.

#tapi juga direpost di wordpress haha

Facebook – Medium – WordPress – Twitter dst dst… Manusia modern ditenggelamkan dunia maya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s