KAMUUUUUH

Adlina dan Arai rajin berpuasa. Alhamdulillah sampe hari ke 10 Ramadhan, puasa terjaga. Shalat wajib juga rapat, tidak ada yang bolong. Bahkan selalu berjamaah di masjid. Hanya Shalat Magrib saja yang munfarid. Aku membiarkan mereka menikmati berbuka puasa hingga puas, baru shalat magrib.

Untuk merayakan, hari ke 10 puasa, pas di hari Jumat, Arai pengen berbuka di Pizza Hut. Poster pizza bertopping udang di counter PHD dekat sekolah berhasil memancing selera Arai. Promosi yang efektif.

Selepas asar kami berangkat dari rumah Cijantung. Kami berempat menumpang bus tije menuju ke Plaza Festival. Kurang 10 menit dari waktu berbuka, kami baru sampe, maklum jalanan Ibukota kian padat jelang magrib. Orang-orang tumpah ke jalanan, berburu berbuka dengan orang-orang tersayang.

Pizza berudang itu menu baru kata mas Asep yang ramah melayani kami. Mata Arai berbinar menatap buku menu. Okoyaki pizza. Adlina pengen keju di pinggiran pizza. Selera mereka berdua digabung jadilah Okoyaki Pizza Stuffed Crust. Kami mengorder ukuran sedang karena Arai dan Adlina menambah menu nasi.

Hati orangtua selalu mengembang berbunga menyaksikan anak-anaknya makan dengan lahap. Arai menghabiskan udang-udang, Adlina melahap keju pinggiran roti pizza. Okoyaki ini aroma dan rasanya mirip takoyaki.

Aku sholat magrib di musholla Plaza Festival. Arai dan Adlina tetap menyantap buka puasa. Berbuka puasa di luar rumah begini minusnya, susah tarawih berjamaah.
Pulangnya,kami kembali naik tije. Jalanan sudah mencair. Dari halte Soemantri meluncur ke arah selatan, kami turun di Halte Mampang Prapatan. Disini aku berpisah. Arai, Adlina dan Den Ayu Shanty Wardhanapulang ke Kalibata City, aku lanjut ngantor.

Jam 10 malam, aku beranjak dari meja kerja ke arah musholla. Berniat sholat Isya. Akhir pekan suasana kantor lengang. Apalagi di Musholla, sepi-pi-pi. Aku sendiri.
Berwudhu. Ketika air masuk mulut, kumur-kumur, saya mulai merasa merinding. Basuhan air semakin banyak, merinding semakin terasa. Aaah ini gara-gara perubahan suhu. Hawa dingin dari AC semakin bertambah dingin ketika kulit bersentuhan dengan air. Syaraf-syaraf tubuh bereaksi. Jadilah merinding.

Tapi, selesai berwudhu, merinding menjadi-jadi. Merinding terus menghebat ketika aku shalat Isya. Rasanya pundak, leher dan kepala kesemutan. Merinding sekali, aku merasa kebas ketika meraba kepala. Sedingin apapun, aku belum pernah merinding hebat begini. Rasanya ini bukan sekadar gara-gara suhu dingin.

musholaInilah ujian keimanan. Seberapa tebal imanku. Mosok saya lari tunggang langgang, ketakutan, meninggalkan shalat gara-gara merinding berat. Takut hantu, takut setan…. Sempat terlintas khayalan seram.

Tapi ini khan bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu di neraka.

Iyaa siiih setan gak bergentayangan tapi jin khan tetap menjalani kehidupan normal.

Selepas salam shalat Isya, aku bimbang, mau terus tarawih – sendirian di musholla atau menyerah. Angkat kaki, keluar dari musholla. Mosok tarawih dengan menggelar sajadah di antara meja kerja haha. Kurang elok lhaah

Ini aneh. Kalo ke toilet yang konon terkenal dengan penghuni halusnya, aku biasa wae. Jam berapa saja, tengah malam, dini hari, ke toilet sendiri, ora wedi, ora krasa opo-opo.

Tapi kalo ke musholla kok malah prindang-prinding. Fenomena prindang prinding di musholla ini sebenar sudah lama. Karena itu kalo aku tugas malam, diusahakan datang ke kantor sudah tidak ada hutang shalat. Ben ra shalat dewe neng mushola hehe

Ditengah rasa merinding hebat, aku ingat nasihat Mami, bila merasa merinding atau feeling ada sesuatu atau makhluk lain, kirim doa dan alfatihah untuk mereka. Oke, siapapun kamuuuuh… Yaaa kamuuuh,

Siapa kamuuuh?

Eeeh enggak ding, aku gak bilang gitu karena enggak mau kamuuuh mengenalkan diri kamuuuh.

Kamuh mungkin hanya mengharap lantunan doa.
Yo wis,….Baiklah. Aku menoleh ke sebelah kiri, arah merinding bermula “Tak kirimi al fatihah yooo, bar kuwi kowe ojo menggoda, aku meh tarweh” Ini aku ucapkan dari mulut tidak sekadar membatin dalam hati. Sengaja aku ucapkan biar kamuuuuuh denger.

Aku mendaraskan doa al fatihah dengan niat mendoakan bagi kamuuuuh, siapapun makhluk yang tengah bersamaku. Perlahan rasa merinding berkurang, berkurang lalu hilang.

Alhamdulilllah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s