Menari di Panggung

Suasana Sidang Skripsi
Aditya Heru, Raymond Kaya, Esther Abdurahim, Ign Haryanto

Gara-gara skripsi, saya bisa bertemu dengan bang Raymond Kaya. Kami ngobrol cukup lama. Bang Raymond ramah dan jenaka. Dengan segala pengalaman dan posisinya, saya kagum dengan kepribadian bang Raymond yang sangat menghargai lawan bicara. Dia menyapaku dengan mas atau bos. Walau pertama kali bertemu kami langsung akrab.

Bang Raymond menempuh S1 Hubungan Internasional di Parahyangan. Lalu melanjutkan Master di Universitas Mercubuana. Sebagai jurnalis senior di Liputan 6, tentu bang Raymond disegani. Setiap kali mengajar, para dosen kerap berkata, bukan begitu pak Raymond?

Namun bang Raymond tidak mau jumawa, tetap menghormati dosen pengajar. “Mohon maaf sebelumnya, ini sharing pengalaman saja ya pak/bu jadi begini blaa blaa blaaa….”

Itu saya pelajari betul, tidak perlu kita mengKO orang, menjatuhkan orang tapi yang penting kita bisa menari di panggung ujar Bang Raymond.

Sikap yang penting untuk dipegang dan terus dipraktikkan. Jangan pernah menjatuhkan orang.

Ada saja caranya Bang Raymond memecahkan masalah. Suatu ketika ada dosen yang galak minta ampun. Si dosen juga dikenal sebagai pengamat politik yang kerap diundang ke televisi sebagai narasumber. Bang Raymond memutar otak. Ketemu ide, dia mengontak seorang teman yang berprofesi sebagai guest booker. Guest booker adalah orang yang mengundang narasumber untuk tampil di televisi. Lewat guest booker ini bang Raymond mendekati si dosen. Di dunia televisi, bang Raymond bekerja dengan berbagai karakter manusia. Sebagai broadcaster, maka harus bisa bekerja secara tim baik kepada bawahan maupun atasan.

Saya punya bos, namanya Don Bosco. Kalo kita mengetuk ruangannya, bos Don Bosco dengan gaya bersandar di kursi pemred bilang, Jangan kasih gua masalah Mond, kasih gua solusi.

Dari situ bang Raymond belajar memecahkan setiap masalah.

Saya sendiri bertanya bagaimana jadi korlip, koordinator peliputan yang baik. Di televisi, korlip terkenal sebagai kursi panas. Bertanggung jawab terhadap peliputan dan tim liputan. Bang Raymond berpengalaman menjadi kepala peliputan SCTV beberapa tahun. Menurut bang Raymond, korlip harus memberikan direction, arahan, apa yang mau dicapai ke tim liputan.

Kembali ke skripsi, posisi kami unik, saya pembimbing sedangkan Bang Raymond penguji. Ada 4 mahasiswa yang menjadi “korban” kami. Kepada para mahasiswa yang akan lulus, bang Raymond banyak memberi wejangan dan masukan. Termasuk ketika memproduksi program televisi. Contohnya soal anggaran. Para mahasiswa memang menghitung anggaran transportasi, konsumsi dan segala pengeluaran terkait peliputan. Namun mahasiswa tidak mencantumkan biaya alat dan kru. Notabene memakai alat sendiri maka tidak dihitung. Mentang-mentang teman sendiri yang menjadi kameramen maka tidak dianggap mengeluarkan biaya. Di dunia industri, semua biaya harus ada perhitungannya. Jangan serahkan alat pribadi untuk industri. Perhitungan ini penting terkait dengan strategi sales marketing. Kita harus tahu berapa cost yang kita keluarkan untuk menentukan harga jual iklan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s