SEDANG SHALAT LALU TERJADI GEMPA, APA YANG HARUS ANDA LAKUKAN? SIMAK PENJELASAN USTADZ KHALID BASALAMAH

Kebetulan lagi libur, saya mengantar Nyonya Shanty berangkat kajian yang diisi oleh ustadz Khalid Basalamah. Kajian Senin pagi itu dilangsungkan di rumah Teh Euis di Condet, Jakarta Timur. Kami berboncengan naik sepeda motor dari rumah Cijantung. Kami tiba di Condet sekitar pukul 10 lebih sedikit. Saya memarkir Vario di halaman depan, persis di samping motor XMAX warna coklat. Kajian sudah dimulai. Setelah mengisi absen, Nyonya Shanty langsung masuk ke dalam rumah. Karena ini kajian khusus akhwat alias perempuan maka saya menunggu di garasi. Tapi berkat televisi dan speaker yang dipasang di garasi, saya bisa menyimak ceramah ustadz Khalid Basalamah.

IMG_20180813_110512_305.jpg
Menyimak kajian Ustadz Khalid Basalamah di garasi

Ustadz Khalid Basalamah berceramah tentang takdir. ALLAH SWT sudah menuliskan takdir setiap manusia. Namun manusia wajib berikhtiar. Contohnya manusia memohon panjang umur. Secara nominal usia seseorang sudah ditentukan dan tinta sudah kering alias tidak bisa berubah. Namun berkat doa, usia lebih barokah, lebih bermanfaat. Jadi enteng bersedekah, rajin membaca Al Quran, mengisi usia dengan kebaikan.

Di depan ustadz Khalid Basalamah ada dua telepon genggam yang menyiarkan langsung ceramah melalui Youtube Live dan Facebook Live. Setiap ceramah, Ustadz Khalid Basalamah membawa beberapa asisten yang membantu menyiapkan sound sistem, kamera, perangkat siaran langsung melalui daring alias online serta ada juga yang berjualan buku dan menyebarkan selebaran. Saya mengecek akun instagram @ustadzkhalid yang memiliki follower 1.4 juta. Wooow, luar biasa. Semoga para follower bisa menyerap ilmu agama dan menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bahagia.

IMG_20180813_101209.jpg
Kajian khusus akhwat

Ustadz Khalid Basalamah menceritakan suatu ketika Khalifah kedua, Umar Ibn Khattab memimpin pasukan Muslimin. Di suatu titik perjalanan, ada kabar bahwa daerah yang akan mereka lewati sedang dilanda penyakit thaun atau pes. Sangat mematikan. Umar Ibn Khattab menghentikan rombongan. Beberapa sahabat menghampiri dan menyatakan pendapat agar pasukan terus maju. Jika sudah takdir Allah SWT kena penyakit yaa kena saja demikian argumen beberapa sahabat itu. Umar Ibn Khattab bergeming sembari berkata aku berpindah dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Sikap Umar Ibn Khattab lantas terbukti benar ketika ada seseorang yang datang dari barisan belakang kaum Muslimin dan menyampaikan bahwa Rasulullah pernah berkata bila ada suatu daerah terkena wabah penyakit thaun maka menghindarlah dan bila sudah berada di dalam daerah itu, jangan keluar. Penyakit thaun gampang sekali menular.

Berkali-kali deru pesawat jet memenuhi rongga telinga. Senin, 13 Agustus 2018 bertepatan dengan latihan fly pass. 18 jet tempur angkatan udara dikerahkan antara lain Fighting Falcon F 16 buatan Amerika Serikat, Sukhoi SU 27/30 buatan Rusia, Super Tucano T50 made in Brazil. Fly pass ini dalam rangka latihan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 73. Bergemuruh. Suara ustadz Khalid Basalamah ditelan raungan mesin jet yang terbang dari Pangkalan Udara Halim. Di beberapa bagian, saya susah mendengar suara ustadz Khalid Basalamah.

 

Terkait dengan takdir, umur, jodoh, rezeki, saya terlintas pertanyaan. Beberapa waktu lalu beredar video viral imam yang tetap melanjutkan shalat meski gempa mengguncang. Bergoyang-goyang, sampai tangan Imam berpegangan ke dinding samping. Saya mengirim WA ke Nyonya Shanty, jika sedang shalat lalu gempa, bagaimana sikap kita, terus shalat atau menyelamatkan diri?. Pesan terkirim. Tapi tak dibaca. Saya miss call beberapa kali agar Nyonya membaca pesan WA. “Aku duduk di belakang, gak bisa nulis pertanyaan” Nyonya Shanty mereply pesanku. “Nanti pas keluar khan ustadz Khalid lewat garasi, bisa tanya langsung” lanjutnya.

Jam 11.30 kajian selesai. Dan benar Ustadz Khalid Basalamah lewat depan garasi menuju ke XMAX. Rupanya ustadz Khalid Basalamah mengendarai motor XMAX itu. Pas betul. Saya langsung memberi salam dan menanyakan perihal video yang viral tersebut. “Shalatnya khan sebelum gempa, lanjutkan shalat” jawab Ustadz Khalid Basalamah, ringkas. Menurut kesimpulanku, teruskan ibadah shalat meski ada gempa atau bencana yang mengancam nyawa.

Sepulang kajian, saya berselancar di dunia maya, tidak sengaja malah menemukan artikel di islami.co yang juga membahas perihal shalat ketika gempa melanda. Di artikel yang ditulis Hengki Ferdiansyah Lc MA menyatakan di dalam ibadah ada keringanan dan kemudahan. Tujuannya untuk memudahkan manusia dan menghindarkan mereka dari kesulitan. Salah satu tujuan syariat Islam adalah raf’ul haraj (menghilangkan kesulitan). Penulis lantas mengutip pendapat Syekh Izzuddin bin Abdul Salam dalam Qawaidul Ahkam mengingatkan pentingnya memperhatikan mana yang lebih utama dan harus didahulukan dalam ibadah. Kalau dihadapkan pada dua kemaslahatan, usahakan untuk melakukan keduanya. Tapi kalau tidak bisa dahulukan yang paling utama di antara keduanya. Kalau tidak bisa juga, pilih salah satunya.

Penerapan dari prinsip ini adalah bolehnya membatalkan shalat dengan tujuan untuk menolong orang lain. Syekh Izzuddin mengatakan:

تقديم إنقاذ الغرقى المعصومين على أداء الصلوات لأن إنقاذ القرقى المعصومين عند الله أفضل من أداء الصلاة والجمع بين المصلحين ممكن بأن ينقذ الغريق ثم يقضى الصلاة

“Dahulukan menolong orang yang tenggelam ketimbang melaksanakan shalat. Karena menolong nyawa orang tenggelam itu di sisi Allah lebih utama ketimbang shalat. Melakukan dua kemaslahatan ini sangat mungkin dengan cara menolong orang tenggelam dulu, baru setelah itu melakukan shalat.”

Penjelasan ini menggambarkan bahwa syariat Islam sangat memahami manusia dan fleksibel. Karena itu, kalau ada bencana alam, semisal gempa bumi, dibolehkan untuk membatalkan shalat demi untuk menjaga diri dari bahaya bencana alam. Khawatirnya kalau tetap melanjutkan shalat, bangunan masjid atau rumah hancur dan mencelakai diri kita sendiri.

Pendapat di islami.co ini sejalan dengan artikel yang dimuat di konsultasisyariah.com. Artikel yang ditulis Ammi Nur Baits menjabarkan menghindari mafsadah (potensi bahaya) lebih didahulukan dari pada mengambil maslahat (kebaikan).

Dalam banyak literatur yang membahas qawaid fiqh, kaidah ini sering disebutkan.

Diantara dalil yang mendukung kaidah ini adalah firman Allah,

ولا تَسُبُوا الَّذِينَ يَدْعُونَ من دوُنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Janganlah kamu memaki tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. al-An’am: 108).

Saya sendiri pernah mengalami. Suatu hari, saya shalat dhuhur di rumah karena ketinggalan jamaah di masjid. Jika tidak salah ingat, baru masuk rakaat ke dua, saya tiba-tiba merasa pusing. Pusing sekali, saya belum pernah mengalami pusing seperti ini. Dalam hati, saya berpikir apa saya kena serangan stroke kok tiba-tiba pusing begini. Konsentrasi shalat mulai buyar. Di tengah kepusingan, mendadak telapak kaki merasakan lantai bergerak-gerak menonjol, seperti gerakan menonjol kursi pijat di punggung. Saya lalu melihat Nyonya Shanty yang sedang duduk di bangku tak jauh dimana saya berdiri. “Pa, gempa Pa!” kata Nyonya Shanty. Sambil bergandengan tangan, kami keluar rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s