Tes Kejiwaan

IMG_6045
Buku ini adalah batas kesehatan jiwa anda, waras atau terganggu

Saya kesal. Adlina menerbangkan mainan kunang-kunang milik Arai dan mainan itu jatuh di atap rumah pak Arif, depan rumah kami. Arai meraung, menangis tahu mainan favoritnya nyangsang. Aku memperingatkan Adlina, mainan itu tidak bisa dimainkan di komplek rumah, bisa nyangkut di atap, Itu harus dimainkan di tempat terbuka seperti di Monas. Awalnya Adlina main di dalam rumah. Bunyi benturan kunang-kunang menabrak plafon rumah. Saya ingatkan agar tidak main di dalam rumah. Ternyata Adlina keluar rumah dan menerbangkannya. Saya kesal. Apa kamu tidak bisa mikir kalo mainan itu bisa nyangkut di atap? Tidak jawab Adlina polos.

Memiliki dan membesarkan anak memang ujian. Bila sedang kesal, saya lalu mengingat kisah Rasulullah yang suatu hari menggendong seorang anak. Tiba-tiba si anak mengompol dan membasahi baju Rasulullah. Si ibu tentu malu lalu memarahi si anak. Rasulullah tersenyum, noda di bajuku bisa dibersihkan sedangkan luka di hati anakmu tidak bisa disembuhkan. Nasihat yang sangat bijak. Saya berusaha untuk menahan amarah kepada anak-anak.

Mainan kunang-kunang memang bisa dibeli lagi. Tapi saya tidak mau mendengar rengekan Arai sepanjang malam, meratapi mainannya. Arai khawatir baterai si kunang-kunang habis sehingga LED tidak menyala lagi. Saya ajak Adlina dan Arai mengambil tangga panjang di samping masjid. Tangga itu sangat panjang. Mungkin lebih dari enam meter. Bahannya dari baja ringan. Sangat berat ternyata. Kami bisa membawa tangga itu ke rumah pak Arif tapi kami kesulitan mendirikannya. Mas Alvin sampai keluar rumah dan membantu. Tapi tangga itu memang terlalu berat.

Kami lantas memakai tangga lipat punya pak Arif. Setelah didirikan, saya memanjat naik. Saya lihat ada sandal milik Rais, anak pak Arif di atap. Main bola kok sandal yang terbang kata pak Arif. Saya terkekeh. Tak jauh dari sandal, tergeletak si kunang-kunang. Dengan memegang sapu, saya menggapai sandal dan kunang-kunang. Misi berhasil. Arai tersenyum. Adlina pun mengerti kesalahannya. Kunang-kunang, mainan yang dibeli di Monas. Teruat dari sebatang kayu kecil dengan dua sayap dari plastik agak tebal. Ditarik seperti katapel untuk terbang ke atas. Lalu berputar jatuh ke bawah.

Selasa 28 Agustus, saya sudah sibuk sejak pagi. Selepas mengantar Adlina dan Arai ke sekolah, saya ke RSUD Pasar Rebo. Untuk melengkapi berkas, saya harus mendapat surat keterangan sehat jasmani, sehat mental dan bebas narkoba. Sabtu lalu, saya mencolek tetangga, dokter Eko yang bertugas di RSUD Pasar Rebo. Kabari aja mas, nanti saya antar, janji dokter Eko. Selasa pagi, kami bertemu di lobby RSUD Pasar Rebo di lantai 2. Dokter Eko mengantar saya ke bagian MCU Medical Check Up. Di dalam ruangan MCU saya mengisi selembar formulir. Petugas perempuan MCU lalu mengangsur berkas. Kami lalu naik ke lantai 3. Rumah sakit penuh oleh pasien dan keluarga pasien. Karena tidak kebagian tempat duduk, banyak yang duduk di tangga. Sedikit menghalangi orang yang naik turun tangga. Di depan kasir, saya bertanya “apa bisa bayar gesek kartu debit?”

“Tidak bisa pak, harus cash” jawab ibu kasir.

“Berapa totalnya?”

“810 ribu pak.”

“Baik bu, saya ke atm dulu”.

Dokter Eko memberi petunjuk arah lokasi ATM di lantai. Saya dan Shanty turun. Sempat kebingungan dan baru ketemu setelah bertanya dua kali ke satpam. Setelah ambil uang, saya lalu bergegas kembali naik ke lantai 3. Pembayaran lunas. Tahap selanjutnya dari kasir menuju ke loket kartu. Karena saya pasien baru, belum pernah berobat maka harus membuat kartu. Petugas perempuan mengotak atik komputer. Tak berapa lama kartu pasien RSUD Pasar Rebo tercetak. Lengkap dengan nama saya. Dokter Eko lalu mengantar saya ke bagian laboratorium. Saya melalui beberapa poli yang dipenuhi pasien. Ada yang duduk di kursi biasa, ada yang duduk di kursi roda ada pula yang terkapar di ranjang pasien. Saya mensyukuri kesehatan yang dilimpahkan Allah SWT. Nikmat sehat adalah nikmat tak terkira.

IMG_6051
Antrian pasien di poli

Seorang tenaga medis perempuan mengambil darah saya dari lengan kanan. Untuk mengalihkan rasa takut saya terhadap jarum suntik, saya mengobrol. “Ramai ya bu?”

“Selalu ramai pak”

Obrolan singkat saja karena jarum suntik sudah menembus kulit. Darah merah gelap memenuhi tabung suntik. Luka bekas suntikan diberi kapas dan plester. Dokter Eko lalu mengangsurkan botol plastik kecil, wadah urine. Saya ke toilet, kebetulan agak terasa ingin kencing. Botol pun penuh dengan urine. Saya lalu meletakkan botol itu di nampan biru, di loket penerimaan sampel.

Tanpa jeda, dokter Eko lalu mengajak saya ke bagian radiologi. Kami melalui lorong-lorong rumah sakit. Jika disuruh lewat lagi sendirian, saya pasti tersesat. Ada beberapa ruangan di bagian radiologi. Oleh seorang tenaga medis perempuan, saya diminta masuk salah satu ruangan. “Lepas bajunya Pak” kata petugas medis yang mengenakan jilbab. Saya kira si petugas sudah sering, setiap hari melihat laki-laki bertelanjang dada. Saya tak sungkan mencopot kacamata dan melepas baju. Saya diarahkan berdiri di papan untuk di rontgen. Hanya beberapa detik, pemotretan X Ray berlangsung. Saya segera memakai baju kembali karena ruangan dingin ber AC.

Saya keluar ruangan, dokter Eko tengah bercakap-cakap dengan seorang suster

“Dok saya perlu termometer khusus buat anak” pinta si suster

“Oke saya usahakan” jawab dokter Eko.

Di setiap loket yang sudah saya lalui, dokter Eko kenal dan akrab dengan petugas. Dan ini belum berakhir.

Dokter Eko lalu mengajak saya ke gedung lain di RSUD Pasar Rebo. Kami menemui dokter jiwa. Sebelumnya kami transit dulu di meja perawat. Si perawat sempat bergurau tentang lomba makan kerupuk yang saya dan dokter Eko ikuti di komplek perumahan kami, Sabtu lalu. Tampaknya si perawat tahu kekonyolan kami, makan kerupuk yang digantung dan disambungkan ke jempol kaki. Kami harus mengangkat kaki agar kerupuk turun pas di mulut. Konon salah satu tanda kewarasan adalah kita bisa menertawakan diri sendiri.

Ada empat perintah yang diberikan oleh dokter jiwa,

  1. Jujur
  2. Spontan
  3. Fokus
  4. Jangan buru-buru

empat perintah ini merupakan instruksi bagi saya untuk mengikuti tes kejiwaan. Saya dibawa dokter Eko berpindah ruangan lain lagi. Saya dioper ke Ibu Susi. Oleh Ibu Susi, saya dibawa masuk ke suatu ruangan, entah ruang milik siapa namun yang pasti ruang kerja pimpinan. Tak terlalu besar. Ada meja, satu buah kursi bersandaran tinggi dan dua kursi biasa di depannya. Ibu Susi memberi buku soal bersampul biru. Saya diminta menjawab 556 pertanyaan dalam waktu dua jam. Ibu Susi lalu meninggalkan saya dan menutup pintu. Tinggal saya sendiri dan ratusan soal yang akan menentukan kewarasan jiwa saya.

556 soal, tinggal baca pertanyaan lalu pilih jawaban Ya atau Tidak. Pertanyaannya macam-macam. Dari pertanyaan itu, saya meraba beberapa tanda gangguan jiwa misalnya pertanyaan apakah saya sering mendengar suara-suara? apakah saya merasa ada orang lain yang berbuat jahat kepada saya? Apa saya sering kelelahan? Termasuk pertanyaan mengenai seks.

img_6047.jpg
Kepuasan seks adalah kewarasan jiwa

Setelah 100an pertanyaan, saya berpindah tempat, dari kursi biasa lalu menyeberang ke kursi bersandaran tinggi, tentu saja kursi pimpinan. Lebih nyaman. Saya sempat menyandarkan badan sambil melihat sekeliling ruangan. Ooh begini yaa jadi bos, pikirku. Saya sering datang ke ruangan- ruangan pimpinan baik pejabat pemerintah atau korporasi. Untuk lingkungan pemerintahan, settingan ruangan hampir mirip. Memang posisi itu melenakan. Tapi saya tidak terlena, saya kembali mengerjakan tes kejiwaan. Di tengah keasyikan menguji kewarasan, Ibu Susi masuk beserta seorang pria yang juga mendapat buku soal yang sama. Kami duduk berhadapan. Sempat basa-basi sebentar. Si pria mengaku akan menjadi kurator. Entah kurator apa, seni atau hukum. Kami lalu diam, tenggelam dalam ratusan pertanyaan.

Waktu belum dua jam, tapi saya sudah menyelesaikan tes. Saya keluar ruangan dan memberikan jawaban beserta buku soal ke Ibu Susi. Semua tenaga medis yang melayani saya adalah perempuan. Shanty memberi tahu, ternyata ruang kerja dokter Eko ada di seberang ruangan Ibu Susi. Ada papan, tapi saya lupa persisnya namun kurang lebih ruang itu adalah tempat bagian peralatan medis.

Kami berjalan keluar. “Terimakasih lho dok sudah dianterin, kalo enggak saya nyasar. Saya nggak mengganggu praktek dokter Eko khan?” ujar saya.

“Saya sekarang di manajemen, jadi nggak pegang pasien lagi” terang dokter Eko

Oooh pantas dokter Eko kenal dengan semua bagian. Kalo hanya sekadar dokter praktek, saya kira tak bakalan dokter Eko kenal akrab dengan semua pegawai.

“Maaf ya mas harus muter-muter, saya ingin bikin tempat khusus Medical Check Up seperti di rumah sakit lain tapi masih terkendala lahan” kata dokter Eko. Pemprov DKI sebenarnya siap membeli lahan kosong di samping RSUD Pasar Rebo tapi ternyata sengketa, ada dua kepemilikan. Akibatnya rencana pembelian diurungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s