NASI PADANG, PENDATAAN & VANLIFE

Hai

IMG_20180923_093159
Warung Padang enak di belakang Kalibata City

Adlina dan Arai ingin nasi padang untuk sarapan. Ada warung nasi padang di belakang Kalibata City yang enak dan harga terjangkau. Sedikit masalah karena jaraknya lumayan jauh, hampir sekiloan dan kami tidak membawa motor. Aku mengajak Shanty untuk berjalan kaki. Sekalian olahraga. Jam 9 lebih. Cukup panas. Arai memesan nasi pakai sayur hijau plus rendang dan tempe atau bakwan jagung sedangkan Adlina hampir sama, pilih pake perkedel kentang.

Turun dari lift, kami bertemu dengan Pak RT Flamboyan dan seorang warga. Mereka berdua akan melakukan pendataan. Mereka meminta kami bergabung. Aku mengiyakan namun akan menyusul ke lantai 19 setelah kami selesai membeli makanan untuk anak-anak. Lalu kami berdua berjalan kaki lewat pintu samping Kalibata City yang biasa gerbang keluar motor. Menyusuri rel lalu berbelok ke kanan. Di tengah jalan, banyak motor dan juga mobil parkir. Puluhan orang berkerumun di suatu rumah yang menjadi tempat praktek pengobatan alternatif. Di dinding dipajang foto seorang berumur 40 tahunan, mengenakan sorban putih dan memegang tongkat. Namanya Tubagus namun aku lupa lengkapnya.

“Ramai ya” kata Shanty.

“Pengobatan khan seperti jodoh, cocok-cocokan” jawabku. Baik pengobatan medis ala kedokteran maupun pengobatan alternatif.

“Biasanya yang berobat dari orang jauh. Jarang orang dekat sekitar berobat” imbuhku. Shanty menimpali ada kerabatnya yang cukup kondang di Turen, Malang. Apa saja penyakit bisa diobati. Apa saja masalah bisa diselesaikan. Termasuk menyantet orang. Namun orang yang datang dari jauh. Tetangga sekitar termasuk sanak saudara tidak ada yang mendekat untuk berobat atau meminta bantuan. Mungkin tetangga dekat dan saudara mengenal luar dalam si orang “sakti” sehingga malah tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Aaah itu itu khan,…. Bila di hati terbesit rasa tidak percaya tentu proses pengobatan tidak akan manjur.

Kami tiba di warung padang. Rendang, bakwan dan perkedel sudah matang. Ikan masih dibakar. Warung ini juga “buka cabang” dengan gerobak di Kalibata City. Namun kami lebih memilih datang langsung ke warung utama karena masakan lebih segar. Dua bungkus nasi padang sudah ditangan, kami berjalan pulang. Petugas PPSU membersihkan selokan dan gorong-gorong. Lumpur hitam dimasukan ke dalam karung. Persiapan menyongsong musim hujan.

Kami melihat salah satu rumah yang baru selesai dipugar. Rumah itu mempunyai basement untuk parkiran mobil. Kami berkhayal membangun basement di rumah kami.

Keluar gerbang kantor, aku melihat bus Transjakarta jurusan Kampung Rambutan sudah berada di halte Tendean. Aku menunggu di gerbang kantor sambil melambaikan tangan. Bus Transjakarta berhenti di halte Transtv, beberapa meter sebelum gerbang kantor. Aku berlari kecil menghampiri bus transjakarta. “Kami tidak boleh berhenti sembarangan pak” terang si kondektur. Harus pas di halte. Aku mengirim pesan ke Shanty untuk membeli Lontong Sayur ala Padang di warung Mak Ciak, Kalcit. Kuah santannya enak, lengkap dengan sayur pakis. Aku menghabiskan Lontong Sayur itu. Berjalan kaki ke warung padang salah satu cara membakar kolesterol yang kusantap di pagi hari.

Shanty naik ke unit. Aku menunggu tukang galon, nebeng kartu akses ke lantai 19. Pak RT sedang mengetuk pintu unit ketika aku keluar lift di lantai 19. Beberapa unit yang diketuk tidak ada respon. Mungkin tidak ada orang, mungkin sedang tidur atau mungkin mereka diam-diam saja dan tidak membukakan pintu. Tiba-tiba dari pintu darurat muncul dua remaja berwajah Arab. Kami mencegat mereka. Ternyata dua remaja ini mengaku dari Suriah namun bisa berbahasa Indonesia.

Kami masuk ke unit mereka. Di unit kami disambut bapak remaja itu. Si bapak memberikan kartu KITAS, saya memotret, bu Titin mencatat. Si bapak kelahiran Damaskus, Suriah namun mengaku sudah 14 tahun tinggal di Indonesia. Bahasa Indonesianya lancar. Dia punya rumah di Cibinong dan menyewa unit di Kalibata City karena kedua anaknya sekolah di Asem Baris, Tebet. Si bapak menyewa unit setahun dari pemilik langsung. Bu Titin mencatat keterangan tersebut. Seekor kucing pesek berbulu putih lembut, keluar dari salah satu kamar. Sangat jinak. Sebenarnya ada larangan memelihara hewan di apartemen.

Unit lain yang membukakan pintu dihuni dua orang perempuan muda yang mengaku kakak beradik. Mereka katanya bekerja di salah satu merk kosmetik. Mereka menyewa bulanan. Kami mendata dan memotret KTP mereka.

IMG_20180923_112311
Pendataan penghuni di Kalibata City oleh pengurus RT

Di salah satu unit pojok, juga ditinggali penyewa. Malah penyewa ini hanya menyewa mingguan. Dia mengaku dari Batam dan tengah ada urusan pekerjaan di Jakarta. Daripada tinggal di hotel, dia memilih tinggal di apartemen.

Di buku catatan, mayoritas memang penyewa. Sedikit yang penghuni merupakan pemilik langsung unit Kalibata City.

Selesai pendataan, aku kembali ke unit. Kami bersiap pulang ke Cijantung. Sesampai di Cijantung, selepas Asar, Shanty mengajak belanja ke Pasar Ciracas dan Superindo. Aku memesan biji kopi untuk pengharum ruangan. Kata si penjual, Robusta Bali paling pas untuk pengharum ruangan. Harganya 15 ribu per ons. Kami beli setengah ons.

IMG_20180923_163127
Robusta Bali beli di Pasar Ciracas

Langit gelap. Sebentar lagi hujan. Kami bergegas belanja di Superindo Titanium.

IMG_20180923_160307
Minggu sore (23/9) langit Jakarta gelap

Sesampai dirumah, biji kopi dituang ke dalam wadah kecil. Aku menaruhnya di atas kulkas dan di dalam kamar mandi.

Aku, Arai dan Adlina mengisi waktu sore dengan menggambar. Kami mencari video di Youtube, How to Draw lalu kami mengikuti polanya. Kami menggambar jet tempur, pesawat penumpang dan kereta. Di sekolah, Adlina malah mendapat tugas menggambar selebaran untuk iklan layanan masyarakat.

IMG_20180923_164534
Public Service Advertisiment Iklan Layanan Masyarakat karya Adlina

Arai dan Adlina beranjak tidur. Aku membuka laptop, mempersiapkan materi perkuliahan hari Senin. Tak sengaja menemukan artikel di The New Yorker yang menarik #vanlife pasangan yang hidup dan berpetualangan dengan van. Emily King dan Corey Smith, sudah sejak 2012 hidup di dalam van dan berkelana. Parkir di suatu tempat, mereka berselancar, menggowes sepeda gunung, yoga, memasak dan mengisi konten untuk Instagram. Mereka hidup dari sosial media. Sponsor memberikan barang, diskon dan uang. Gantinya pasangan ini harus menyajikan konten yang menarik pembaca. “Follower pengen liat Emily berbikini, tempat yang cantik dan van” kata Corey. Melongok Instagram mereka, memang dipenuhi foto-foto Emily berbikini. Entah sedang di tepi pantai, yoga atau berbaring di dalam van yang sempit. Foto-foto begini bisa menarik lebih dari delapan ribuan likes. Semakin banyak likes, sponsor makin heppi.

Sekilas kehidupan pasangan ini seperti di surga. Bersenang-senang, menjalani hidup seperti yang mereka inginkan. Namun dibalik itu, tersimpan kerja keras dan tantangan. “Dimana kalian kencing?” “Apa resepnya tidak saling membunuh?” beberapa pertanyaan dari orang-orang yang ingin meniru hidup di van.

Jawaban yang pertama, gampang. Kencing di kamar mandi, di pohon. Dimana saja asal tidak di dalam van.

Sedangkan jawaban yang kedua lebih rumit. Corey memberi tips agar pasangan punya kebiasaan masing-masing dan meluangkan waktu melakukan yang disenangi sendiri-sendiri. Ketika Corey memasak sarapan, Emily berjalan-jalan dengan anjing. Di siang hari, Corey bersepeda, Emily berlatih yoga dan menulis jurnal.

Apa anda berminat berpetualangan dengan van?

Sampai jumpa

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s