SENI untuk LAUT

Joshua Jackson
Berfoto bersama Joshua Jackson. Ganteng, terkenal, ramah dan peduli lingkungan. Kurang apa coba?

“Apa masalah terbesar di planet ini?”

“Kita. Manusia adalah masalah terbesar di bumi saat ini. Nafsu dan sifat malas adalah masalah terbesar. Kita, manusia yang membuat masalah, seharusnya kita yang menyelesaikan”

Joshua Jackson menjawab lugas pertanyaan jurnalis di forum Our Ocean Conference (OOC). Otakku langsung bekerja, aha aku sudah menemukan soundbite yang masuk dalam paket berita yang akan aku buat.

Aku belum pernah mengenal Joshua Jackson. Aku membayangkan seorang Amerika berkulit hitam, seperti the Jackson five, Michael Jackson dan para sedulurnya. Begitu pula bayangan beberapa wartawan di media center OOC. Ternyata mas Joshua ini bule kulit putih, tinggi ganteng dan brewokan. Pantesan Lia ngefans dan ngebet pengen foto bareng. “aku suka dia sejak serial Dawson Creek” kata Lia dengan mata berbinar.

Keinginan Lia keturutan berfoto bersama setelah Joshua melayani wawancara para juru warta. Aku juga minta foto bareng.

Kehadiran Joshua di OOC mewarnai konferensi yang didominasi para perwakilan pemerintah, organisasi lingkungan dan korporasi. Dari panggung utama, Joshua berseru agar kita semua segera bertindak menyelamatkan laut dari gelombang sampah plastik yang terus membanjiri lautan. “Kita telah membuat polusi pada lautan kita, mengambil ikan berlebihan, dan membunuh terlalu banyak spesies berharga dan kehidupan di bawah laut,” ujar Joshua.

Bersama dengan aktris cuaaantik Nadine Chandrawinata, Joshua aktif bergabung di Oceana organisasi advokasi Internasional yang berdedikasi untuk konservasi laut.

Menurut Oceana, terdapat sekitar sepertiga dari stok ikan dunia yang telah ditangkap secara berlebihan. Bajak laut modern terus menjarah lautan kita, mengancam negara-negara yang bergantung pada makanan laut sebagai sumber utama protein mereka. Metode penangkapan ikan yang merusak seperti pukat harimau (bottom trawling) terus merusak karang-karang yang sudah berumur lama dan spesies di bawahnya. Nelayan terus membuang makanan laut dan satwa liar yang secara tidak sengaja ditangkap sebagai umpan. Kehidupan laut yang penting, seperti hiu terus-menerus menurun jumlahnya akibat dari penangkapan ikan hiu yang berlebihan serta praktik pemotongan sirip ikan hiu yang brutal dan membuang tubuh ikan hiu di laut.

 

Lautan kita saat ini menerima ancaman yang kita hadapi tiap harinya yaitu: plastik. Setidaknya ada 17,6 miliar pon sampah plastik memasuki lautan tiap tahunnya. Namun, Indonesia, seperti negara lainnya di dunia melihat ada ancaman yang dihadapi di lautan secara langsung.

Perusahaan yang terus-menerus menggunakan kemasan plastik menghancurkan tempat-tempat yang indah seperti Bali. Kita telah membuang satu truk sampah plastik ke lautan setiap menitnya. Mendaur ulang dan pengunaan kembali (reuse) bukan merupakan jalan keluar dari masalah ini. Kita harus mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah plastik yang mereka produksi dan mencari solusi alternatif untuk mengirimkan produk mereka.” ujar Jacqueline Savitz, Chief Policy Officer, Oceana.

 

Nama Joshua Jackson menambah deretan selebrita yang aktif di isu lingkungan seperti Leonardo Di Caprio yang mencurahkan waktu, perhatian bahkan uang di masalah perubahan iklim. Ada juga Matt Damon, yang peduli dengan masalah air bersih dan sanitasi. Seperti Di Caprio dan Joshua, Matt Damon pernah berkunjung ke Indonesia, diam-diam, tak banyak media yang tahu. Matt mengunjungi Koperasi Mitra Dhuafa di Lenteng Agung, Jaksel yang menjadi partner water.org menjalan program air bersih.

 

Sepak terjang para selebritis ini diharapkan mampu menarik perhatian banyak kalangan bahwa kita tengah berada dalam masalah yang serius. Kita hidup bersama di Bumi dan kita tidak ada pilihan planet lain bila Bumi ini rusak. Sudah banyak penelitian para ahli yang menyatakan perubahan iklim, peningkatan suhu, punahnya banyak spesies tumbuhan dan hewan, es kutub mencair, kenaikan permukaan air laut, pergeseran musim dan banyak lagi tanda-tanda kerusakan alam. Namun nampaknya penelitian empirik yang logis tidak cukup.

Diperlukan sentuhan lain yang bisa menyentuh emosi banyak manusia agar bertindak. Senin menjadi unsur penting membangun emosi khalayak agar peduli dengan lingkungan. Seniman cantik asal Amerika Serikat, Courtney Mattison menggelar karya Semesta Terumbu Karang di Coral Triangle Center, Bali. Courtney dibantu lebih dari 300 relawan membuat terumbu karang buatan dari keramik. Lebih dari 2000 buah karang yang mereka kerjakan. Lalu disusun menjadi karya instalasi yang cantik. Enam spiral terumbu karang yang menggambarkan enam negara jantung karang dunia yaitu Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Filipina, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.

Sebagian karang juga diletakkan di dasar kolam. Berguna bagi para relawan yang belajar menyelam dan mengukur karang. Bentuknya bermacam-macam. Courtney yang juga ahli biologi mengajak ratusan relawan dari berbagai negara membuat karang buatan. Menurut Courtney, kawasan ini yaitu Indonesia sangat kaya akan terumbu karang, seperti hutan tropis Amazon dibawah laut. Aku mengagumi karya seni yang dicat warna-warni. Indah sekali. Anda juga bisa turut menikmat keindahan Semesta Terumbu Karang di video berikut 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s