MARTABAK

Martabak
Martabak @the market by Ivan Febri / flickr

Salam,..

Suatu siang, dua semester yang lalu saya pernah naik ojek online atau ojol. Mengapa saya menggunakan kata semester karena perjalanan ojol saya kali ini berbau akademik. Hmmm berbau akademik? bukannya berbau solar dan debu karena gak kebagian masker hehe.

Berbau akademik karena si mas-mas ojol ini ternyata mahasiswa tingkat akhir di suatu universitas di Jakarta Barat. Kita panggil saja si Mas Beat yaaks karena motor yang ia kendarai adalah Honda Beat. Si Mas Beat ini mahasiswa komunikasi semester sembilan. Sudah waktunya menggondol gelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Namun agar bisa menaruh gelar SIK dibelakang nama, si Mas Beat musti menyelesaikan skripsinya.

“Judul skripsinya apaan?” tanyaku setengah berteriak karena lalu lalang kendaraan di daerah Serpong, Tangerang Selatan cukup ramai siang itu.

“Skripsi aku soal lagu Efek Rumah Kaca, judulnya Belanja Terus Sampai Mati” jawab mas Beat, setengah teriak juga.

“Emang kenapa kok kamu tertarik angkat lagu itu jadi skripsi?”

Si Mas Beat ini bercerita selama kuliah, dia aktif di radio kampus. Bekerja di belakang layar eeeh di belakang mic. Terkadang siaran juga sebagai penyiar bila si penyiar aslinya berhalangan hadir, entah sibuk kuliah atau malah pacaran. Grup band favorit dia adalah Efek Rumah Kaca/ERK, band yang menulis lirik-lirik pemberontakan. Lagu Belanja Terus Sampai Mati menarik minat si Mas Beat untuk diulas sebagai skripsi. Lagu itu seakan mewakili jerit hati si Mas Beat yang berasal dari keluarga pas-pasan. Dia membiayai kuliah sendiri mulai dari masuk sampai sekarang. Duit dari hasil kerja serabutan. Termasuk narik ojek online.

“Orang-orang di Jakarta khan doyan belanja. Meski gak semua mampu, sampai dibela-belain ngutang” terangnya.

Namun pengerjaan skripsinya mentok di bab tiga. Si Mas Beat masih bingung dengan landasan teori yang digunakan untuk menganalisis lagu Belanja Terus Sampai Mati dikaitkan dengan konsumerisme. Wuuuih berat niih topiknya. Karena itu si Mas Beat bolak-balik konsultasi dengan dosen pembimbingnya.

Skripsi dia terasa makin berat sebab si dosen sulit ditemui di kampus. Selain mengajar, si dosen ternyata bekerja di salah satu stasiun televisi. Karena itu si Mas Beat biasa bimbingan ke rumah si dosen.

“Pas bimbingan saya bawa martabak pak” keluh si Mas Beat.

“Lhoo emangnya si dosen minta?”

“Enggak siih pak, tapi kita tahu diri aja. Yaa kita bawa oleh-oleh. Tapi kalo keseringan bangkrut juga kita siih hehe” lanjut si Mas Beat terkekeh.

Si Mas Beat tengah menimbang-nimbang untuk ganti dosen pembimbing yang lebih mudah ditemui di kampus. Semakin molor skripsinya otomatis si Mas Beat harus menguras koceknya lebih dalam untuk membayar biaya kuliah.

“Semoga cepat lulus yaa” saya mendoakan si Mas Beat sambil mengangsurkan helm ketika kita sudah tiba di tujuan.

Waktu berlalu. Saya tidak tahu apakah si Mas Beat berhasil menggondol gelar sarjana atau dia masih wara-wiri menenteng martabak. Ketika menuliskan ini saya iseng mengoogling ternyata saya menemukan tiga karya skripsi yang mengulas lagu Belanja Terus Sampai Mati. Skripsi pertama ditulis oleh Silvia A, berjudul Negara Pasar dan Masyarakat Sipil: Studi Atas Karya dari Band Efek Rumah Kaca Sebagai Aktor Seni Kontemporer di Indonesia. Silvia adalah Sarjana Sosial lulusan Sosiologi, FISIP UI yang menyusun skripsi pada November 2011. Sebagian isi skripsi tersebut dicuplik di laman blog ERK. Yang ingin membaca silakan klik kesini

Sedangkan skripsi kedua ditulis Heri Wibowo, lulusan Komunikasi fakultas Sospol Universitas Komputer Indonesia pada 2013. Judul skripsinya lumayan puanjaaang, Representasi Konsumerisme Pada Lirik Lagu Belanja Terus Sampai Mati (Analisis Semiotika Charles Pierce Tentang Konsumerisme Pada Teks Lirik Lagu Belanja Terus Sampai Mati Karya Efek Rumah Kaca). Yang mau lanjut baca skripsi lengkap klik ini

Skripsi ketiga disusun oleh Reza Fajri, lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah, 2014.

Karena hanya nemu di google, saya tidak tahu apakah ketiga penulis skripsi itu juga bermodalkan martabak agar cepat lulus.

Terimakasih sudah membaca dan sampai jumpa besok.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s