TRAVELING DI JAKARTA PAKE TRAFI

IMG_20190113_113042.jpg
Diorama kehidupan manusia purba

Melalui aplikasi Trafi, saya tahu dimana posisi bus transjakarta. Awalnya kami akan naik kereta. Tapi setelah saya cek di Trafi, saya tahu posisi bus 7B berada di Kramat Djati jelang masuk PGC. Kami menunggu di halte depan Kalibata City. Tak berapa lama si bus datang. Kami naik.

Saya menginstal Trafi beberapa bulan lalu.Aplikasi ini memberikan informasi mengenai rute-rute transportasi umum di Jakarta dan Jabodetabek seperti bus transjakarta, kereta sampai dengan angkot. Melalui gps, Trafi bisa menunjukkan dimana halte atau stasiun terdekat. Trafi juga memberikan beberapa opsi rute angkutan umum yang bisa kita ambil. Caranya gampang cukup isi titik awal dan tujuan. Gampang bingits macam pesen ojek online.

Kerennya lagi, di fitur bus transjakarta, Trafi bisa melacak keberadaan bus transjakarta sehingga kita bisa memperkirakan waktu tiba. Hal ini sangat penting bagi kita kaum Metropolis yang tinggal di kota Metropolitan dengan kemacetan parah. Ketika tahu posisi bus transjakarta, saya masih punya waktu menyelesaikan pekerjaan atau sekadar leyeh-leyeh di rumah ketimbang buang waktu menunggu tak jelas di halte.

Tampilan Trafi. Ramah pengguna dan mudah digunakan

screenshot_20190119-090714

Trafi bukanlah aplikasi buatan anak negeri. Asalnya dari Lithuania dan diluncurkan pertama kali tahun 2013. Banyak kota besar dunia yang sudah dirambah Trafi antara lain Madrid, Istanbul, Ankara, Taipei, Rio de Janeiro. Menurut Martynas Gudonavicius, CEO dan CO Founder Trafi mengatakan “solusi angkutan umum bukanlah di masa depan namun sudah hadir hari ini.”

Di dalam bus transjakarta, saya tebak-tebakan dengan Arai, dimana posisi RS Asri dimana Arai dulu pernah berobat. Yang kalah kasih cium. Arai kalah haha. Tebakan berikutnya dimana posisi Pasar Mampang.

Kami berpindah di halte Duren Tiga naik bus transjakarta jurusan Dukuh Atas. Arai salah menebak posisi Pasar Mampang tapi karena bus turun ke underpass maka yang terlihat hanya tulisan Pasar Jaya di bagian atap pasar. Arai tidak mau mengakui kekalahan. haha

Tebakan berikutnya dimana posisi Pas Fest. Kali ini Arai menang.

Tebakan terakhir dimana posisi kantor KPK dan Arai salah.

Dari Dukuh Atas kami berpindah halte lalu naik transjakarta. Awalnya kami menunggu bus TJ ke arah Monas. Saya cek lagi di Trafi ternyata belum ada bus TJ berangkat dari Ragunan. Saya putuskan naik bus TJ ke arah Dukuh Atas. Pindah bus TJ ke arah harmoni. Turun di halte Monas, kami menyeberang ke Museum Nasional atau yang juga dikenal sebagai Museum Gajah. Karena haus dan tidak membawa minum, kami minum di pancuran di taman depan Museum Nasional.

Rombongan Pintong sudah berkumpul di Gedung Lama. Ada puluhan orang yang ikut. Namun kami belum bisa langsung bergabung. Petugas mengarahkan kami ke Gedung Baru untuk membeli tiket.

 Tiket masuk ke Museum Nasional murce alias murah kebangeten. Kami berempat 2 dewasa 2 anak hanya 14 ribu. Dewasa hanya goceng aka 5.000 untuk anak-anak cuman 2.000. Bagi rombongan di atas 20 orang, tiketnya lebih murah lagi.

Kami berkeliling. Di lantai pertama mengenai perjalanan kehidupan dari masa pra sejarah. Manusia purba menjadi daya tarik utama di bagian ini. Indonesia menyimpan kekayaan kehidupan sejak berjuta tahun silam. Kerangka itu meringkuk di dalam kotak kaca. Ada dua kotak kaca. Saya mendekati dan berdiri di dekat kotak kaca. Nuansa di sekitar kotak kaca dibangun mirip dengan gua. Saya merinding, membayangkan tulang-belulang itu adalah manusia seperti saya, seperti kita semua. Manusia yang hidup, manusia yang mencari makan, manusia yang mempunyai keluarga. Meski saat itu belum ada handphone apalagi bus transjakarta.

img_20190113_110230

Kami naik ke lantai dua yang menyimpan  banyak prasasti bersejarah. Orang jaman dulu pun sudah mencatat kejadian penting. Beberapa prasasti yang sempat saya baca, mendeklarasikan wilayah tertentu, bebas dari pajak sebab di daerah itu berdiri bangunan suci.

Kembali ke lobby, Adlina tertarik mencoba batik. Si bapak pengajar batik orangnya ramah. Kami menebus 50 ribu untuk selembar kain yang digores batik oleh Adlina.

img_20190113_113720
Mbatik yuuuks

Kami sempat mampir dan bergabung di rombongan Pintong. Pak Dwi Cahyono arkeolog Universitas Negeri Malang menjelaskan patung Nandini yang berasal dari Singosari Malang. Patung sapi Nandini tidak hanya berukuran besar namun juga kaya aksesoris seperti kalung dan genta. Hal ini menunjukkan bagaimana penghormatan yang begitu dalam dipersembahkan ke sapi, hewan yang dianggap suci.

img_20190113_122042
Arkeolog Dwi Cahyono (bertopi) digerumuti komunitas Pintong

Patung berikutnya Ganesha, makhluk mitologi gabungan manusia dan gajah. Belalai ke arah kiri masuk ke wadah. Tafsir pertama, wadah berisi ladu atau makanan manis kesukaan Ganesha.

Tafsir kedua, wadah bukan berupa mangkok tapi tengkorak manusia. Tafsirnya Ganesha suka menyerap ilmu. Suka belajar. Tidak cuman menyerap ilmu tapi juga menyemburkan, membagi-bagi ilmu kepada manusia. Karena itu ITB memakai Ganesha sebagai lambang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s