JEJAK RADIOAKTIF DI KREMATORIUM

Lancaster_PA_Crematorium
Krematorium di Lancaster Inggris sumber Wikimedia

Kremasi adalah proses penghilangan jenazah dengan cara pengabuan, jenazah dibakar sampai menjadi abu. Proses kremasi dilakukan di krematorium. Bahkan di kepercayaan dan tradisi masyarakat Bali, dikenal upacara Ngaben.

Tidak hanya di Indonesia, kremasi juga jamak dilakukan di berbagai negara. Di Amerika Serikat contohnya, menurut data National Funeral Director Association setiap tahun ada 2.5 juta warga AS yang meninggal dunia. 42% persennya atau sekitar satu juta jenazah dikremasi. Jumlah ini meningkat dua kali lipat sejak 15 tahun terakhir. Ongkos kremasi jauh lebih murah hanya sepersuluh dibanding proses pemakaman biasa. Ongkos kremasi sekitar $600. Sedangkan untuk pemakaman biasa dibutuhkan dana sampai $6500. Kremasi juga dianggap lebih menghemat penggunaan lahan yang semakin sempit.

 

Namun, peneliti dari Departemen Radiologi, Mayo Clinic mengungkapkan adanya potensi bahaya yang diakibatkan proses kremasi pasien kanker. Radiofarmasi adalah senyawa radioaktif yang digunakan para ahli medis untuk mendiagnosa dan terapi pengobatan. Menurut data tahun 2006 ada 18.6 juta prosedur pengobatan menggunakan radioaktif dilakukan di Amerika Serikat dan hampir sebanyak 40 juta di seluruh dunia. Peraturan keselamatan diterapkan dengan ketat untuk perawatan kepada pasien. Namun radiofarmasi menghadirkan tantangan keselamatan pasca kematian dan kerap diabaikan. Proses kremasi pasien menguapkan radiofarmasi dan dapat dihirup oleh pekerja kremasi termasuk dilepaskan ke masyarakat sekitar krematorium dan menghasilkan paparan yang lebih besar daripada pasien yang masih menjalani perawatan. Peraturan kremasi berbeda-beda di setiap wilayah dan negara bahkan di tingkat federal Amerika Serikat tidak ada peraturan soal kremasi.

Pada tahun 2017, di Arizona, seorang pria berusia 69 tahun yang mengidap tumor neuroendokrin pankreas, dirawat dengan lutetium, terapi yang ditargetkan yang memberikan radiasi secara spesifik ke sel kanker. “Ketika si pasien meninggal, kami tidak tahu bahwa dia sudah meninggal dan dikremasi” kata Natha Yu, ahli medis di Mayo Clinic seperti dikutip oleh IFLScience.

Ketika Yu dan tim menjadi sadar akan situasi ini, mereka menelepon Biro Kontrol Radiasi Arizona untuk mengetahui bahwa negara saat ini tidak memiliki peraturan untuk memberi tahu krematorium kemungkinan paparan radiasi melalui mantan pasien yang telah menjalani prosedur kedokteran nuklir.

Sebulan setelah kremasi, tim dokter Mayo Clinic mensurvei krematorium menggunakan detektor Geiger-Mueller. Mereka menemukan bukti kontaminasi radiasi pada peralatan seperti oven, filter vakum, dan penghancur tulang dalam jumlah 5.000 hingga 25.000 hitungan per menit – jumlah yang sangat kecil.

Tim dokter juga mengambil sampel urin operator krematorium.Analisis urin mengungkapkan bahwa tidak ada lutetium di operator krematorium. Namun, isotop yang mengobati kanker berbeda yang disebut technetium muncul. Karena operator belum dirawat karena kanker, kemungkinan ia terpapar technetium selama bekerja di krematorium.

Meskipun ini hanya satu studi kasus, peneliti mengatakan pekerjaan mereka menggambarkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana lazimnya peristiwa semacam itu dalam rangka membuat peraturan keselamatan bagi mereka yang bekerja di dunia postmortem.

Daniel Appelbaum, kepala kedokteran nuklir di University of Chicago Medical Center, mengatakan bahwa meskipun radioterapi telah ada selama beberapa dekade, mereka “baru-baru ini menjadi jauh lebih umum.”

“Kami memiliki banyak radioterapi baru yang baru saja tiba dan beberapa lagi yang berada di cakrawala dekat untuk beberapa kanker yang sangat umum, termasuk kanker prostat,” kata Appelbaum. Karena di masa depan akan semakin banyak maka kita perlu memikirkan cara-cara untuk mengidentifikasi dan memberi tahu krematorium risiko potensial dan mengevaluasi jumlah kemungkinan kontaminasi radioaktif postmortem, katanya seperti dilansir oleh CNN.

Ada pedoman dan peraturan tentang ini, kata Appelbaum. Komisi Pengaturan Nuklir (Nuclear Regulatory Commission) telah menetapkan batas di bawah ini yang aman dan tidak “menimbulkan risiko signifikan bagi seorang individu. Pekerja krematorium ini tidak menerima jumlah itu; ia tidak menerima jumlah ‘signifikan’,” katanya.

“Kita hidup di dunia dengan radioaktivitas. Kita tidak bisa menghindarinya,” katanya. “Kamu naik pesawat terbang, kamu naik gunung, kamu bahkan nonton TV, kamu sudah terima radiasi.” Namun, katanya, “jika ada hal-hal yang masuk akal dan cukup mudah dan sederhana yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan radioaktivitas, mengapa tidak melakukan itu?”

Di Indonesia, peraturan kremasi dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Di Jakarta, Gubernur DKI mengeluarkan Perda no 3 tahun 2007 tentang Pemakaman. Pasal 7 mengatur mengenai lokasi pembakaran jenazah dan/atau kerangka jenazah serta tempat penyimpanan abu jenazah yang dibangun di lingkungan krematorium sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dengan ketentuan  yaitu tidak berada dalam wilayah padat penduduk, memperhatikan keserasian dan keselarasan lingkungan hidup, mencegah pengrusakan tanah dan lingkungan hidup dan mencegah penyalahgunaan tanah yang berlebihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s