JUKI & GELATO

Gara-gara ada Juki, Arai senang main di M Bloc Spaces. Si Juki hadir di toko Komik Connection. Arai berpose di depan gambar Juki yang cukup besar, padahal ia biasanya tak mau berfoto lho. Toko Komik Connectoon menjual serial komik Juki lengkap. Pilah pilih, pegang-liat-timbang-timbang-taruh, Arai menjatuhkan dua pilihan komik, Juki the Movie dan Juki edisi Sultan. Di dekat tembok, Adlina asyik membaca komik melalui aplikasi telpon pintar. Selain Juki, Connectoon juga menjual bermacam komik karya anak bangsa Indonesia. Aneka merchandise seperti kaos, stiker, gantungan kunci juga tersedia. Arai ingin membeli kaos tapi tidak ada ukurannya. “Aku mau balik lagi kesini” kata Arai.WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.42 AM (1)

Nuttela dan Vanilla, dua rasa gelato pilihan Arai. Sedangkan Kakak Na mencoba rasa Blueberry dan Yoghurt Strawberry Cherry. Rasanya enak, teksturnya lembut. Kami menikmati gelato sambil duduk. Banyak tanaman menyegarkan suasana di dalam Kebunide. Di lantai dua, tergeletak beberapa botol bekas kopi susu. Kami memungut botol-botol itu. Lumayan untuk wadah yogurt.WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.49 AM (1).jpeg

Rosella dan Sereh Telang, dua jamu yang kami nikmati di kedai Jamu. Rasanya segar dan enak. Dijual dalam kemasan botol kaca seharga 30ribuan. Beberapa jamu lain seperti beras kencur, temulawak- jamu yang setiap hari diminum Presiden Jokowi. Aku suka dengan interior Suwe Ora Jamu yang bergaya klasik. Banyak barang-barang jadul seperti telpon putar, televisi yang terbungkus kotak kayu, aneka kursi, gambar dan pernak-pernik jaman dulu, Enggak terlalu jaman dulu beuut siih. Paling tidak era 70 dan 80an. Aku masih sempat menggunakan sebagian barang-barang itu. Eeeh ketauan deeeh generasi guweeeh.WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.48 AM (1)WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.48 AM (2)

Di samping depan toko Jamu ada instalasi seni. Lubang memanjang yang menyambung di ujung. Ujung yang satu diberi kode dengan garis-garis merah dilantai. Aku dan Arai mengikuti garis merah, masuk ke toko Suwe Ora Jamu, terus ke arah pintu belakang toko dan sampai di ujung lubang kedua. Di samping lubang kedua terdapat tombol dengan tulisan tekan. Aku menekan tombol tersebut dan voila, lampu-lampu berwarna-warni menyala. Keren sekali difoto.

Kertas-kertas yang berisi aneka tulisan kreatif digantung di selasar M Bloc Spaces. Aku menikmati beberapa tulisan. Salah satu yang menarik perhatian, tulisannya sederhana saja : Dicari Pencerita……WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.46 AM.jpeg

Meski sederhana, tulisan ini menarikku karena mengandung makna yang dalam. Cerita, bercerita dan pencerita adalah jantung kemajuan peradaban manusia, Homo Sapiens. Sapiens berkembang menjadi spesies yang unggul dan mendominasi Ibu Bumi karena sanggup berkomunikasi dan menularkan pengetahuan, melalui cerita. Pengetahuan yang dipertukarkan, menggelembungkan pengetahuan dan melanggengkan kekuasaan. Terus menerus. Mengunggulkan Homo Sapiens meski adalah spesies termuda di dunia. WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.45 AM.jpeg

Kami kelaparan. 

Arai ingin fish and chip. Masuklah kami ke Oeang. Tempatnya keren banget, klasik. Please wait until be seated, begitu arahan tulisan di bagian depan Oeang. Tiba giliran keluarga kami. Dari titik kami berdiri, kami melihat beberapa meja kosong. Tampaknya Arai bisa keturutan melahap fish and chip niih.

“Setiap orang harus expend minimal dua ratus ribu.”

Aku mencondongkan badan untuk mendengar lebih jelas perkataan si mbak Waiter.

“Setiap orang harus expend minimal dua ratus ribu.”

Jelas. 

Baiklah, Arai malam ini tidak bisa bertemu fish and chip.

Meski kami bukan keluarga horang kaya tapi masih ada rejeki 800 ribu buat kami berempat. Namun kami bingung kalo setiap orang alias satu mulut harus menghamburkan minimal dua ratus ribu, apa yang akan kami makan? Apa perut kami sanggup menampung makanan sebanyak itu? Di papan menu, Aku sempat melirik, harga makanan berkisar 35 ribu.. Lhaa nek mangan kudu entek rong atus ewu, mangan opo wae kuwi? (Jika makan harus seharga dua ratus, apa saja yang dimakan?)

Mungkin saja, kami terlalu polos. Dua ratus per mulut khan tidak harus memesan makanan semua, bisa saja minuman. Tapi di papan menu, harga minuman berkisar 15ribuan. Rasanya Aku tak sanggup minum lebih dari 10 gelas.

Di internet, beberapa laman menceritakan Oeang menjuwal minuman beralkohol. Oalaah itu tho kamsudnya, silakan hamburkan Oeang demi minuman keras. 

Maaf yaa, Aku udah gak nge-alkohol

Rosella dan Sereh Telang wae, semriwing tur sehat.

Kami kelaparan.

Tapi masih saja sempat masuk ke satu toko yang menjual aneka kerajinan. Keren dan kreatif. Shanty menunjukkan tas terbuat dari anyaman bambu. Sama persis dengan tas yang aku bawa ke Jerman untuk cendera mata. Bedanya di harga, disitu, di toko itu yang aku lupa namanya, tas bambu diharga 75ribu sedangkan Shanty menebus tas itu hanya 10ribu. Aku tersenyum saja saat Arai mengacungkan benda terbuat dari kayu yang berbentuk seperti pena. WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.45 AM (1).jpeg

“Apa itu?”

“Pembatas buku”

“Arai mau?”

“Mau”

“Tidak ada harganya, mungkin tidak dijual.” 

Halus yaaks alasanku untuk menolak permintaan anak. 

Kami kelaparan.

Tokyo Skipjack penuh dan mengantri. Ada delapan antrian di depan urutan nomor kami.

Kami kelaparan.WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.44 AM.jpeg

Agar tidak terlalu merasa lapar, kami menyusuri lagi selasar M Bloc Spaces. Foto-foto lagi. Dari etalase jendela, motor bertangki merah dipajang di dalam toko UnionWell. Ada topi yang melambai-lambai dari balik pintu kaca. Menarik perhatianku namun tidak perhatian Shanty. Ia terus saja berjalan. Tidak masuk toko. Baiklah ketimbang makin kelaparan, lapar perut dan lapar mata, aku juga terus berjalan sambil melirik si topi. 

Kami kelaparan.

Agar tidak terlalu merasa lapar, kami berswafoto dengan latar belakang tembok yang artistik. Kreatifitas bertemu dengan konsep bisnis sanggup menyulap kawasan perumahan lama Peruri jadi kekinian. Jika anda sering berkontrak, menjilat dan menempelkan meterai, disinilah meterai yang anda jilat itu dicetak. Jika anda sering berjual beli memakai duit, disinilah dulu duit dibikin. 

Tak lagi dipakai, terabaikan, gelap, banyak perempuan dan setengah perempuan malam berkeliaran di sekitaran kawasan Peruri. 

Walakin, kolaborasi Ruang Riang Milenial dengan Kementerian BUMN menyulap kawasan ini jadi apik dan masuk dalam daftar “terpanas” tempat yang harus didatangi di Jakarta.

Kami kelaparan.

Telpon (setengah) pintarku berdering. Mengabarkan ada meja kosong di Tokyo Skipjack. Kami bergegas. Waiter pria yang tadi mencatat antrian kami, kini mengantar kami ke lantai dua. Jika ini dulu adalah rumah dinas, cukup besar juga sebagai hunian. Mungkin dulu rumah ini dihuni keluarga orang berpangkat di Peruri. 

Arai dan Adlina memesan steak New Zealand Prime Steer striploin, medium done, plus french fries dengan mash potato serta saus barbekyu. Aku memilih beef sate dan Burger jadi incaran Shanty. WhatsApp Image 2019-12-22 at 8.12.43 AM (1).jpeg

Kami makan dengan lahap.

Dan membayar secara digital. Transaksi di M Bloc Spaces tidak melayani uang tunai. Itulah (mungkin saja) mengapa Perum Peruri dengan riang hati mengubah percetakan duit jadi tempat nongkrong. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s