Kreek…Kreekk.. Halim Lumpuh

IMG_20200101_071110Begitu tiba di checkpoint, aku mengganti magasin dan mengikuti briefing dari komandan.

Saved.

Begitu menu Saved muncul, aku bergegas mematikan permainan Call of Duty di Playstation. Tepat pukul 6 pagi. Hujan masih mengguyur. Malam pergantian tahun 2020. Di apartemen sendirian, aku begadang, takut kebablasan. Butuh sedikit waktu untuk memesan Grabcar. Dari Kalibata City ke Bandara Halim, normalnya 25 ribuan. Pagi ini 80 ribu. aku maklum saja karena hujan semalaman dan masih pagi, pengemudi lebih pilih mengeloni anak istri ketimbang pegang kemudi.

Avanza putih membawa aku. Di perjalanan, pengemudi bercerita jika beberapa pesanan sebelumnya harus dibatalkan karena tidak menjemput tamu gara-gara banjir. Dari Kalibata City kami melewati Jembatan Sungai Ciliwung. Airnya tinggi. Ruas Dewi Sartika lancar. Berbelok ke Cawang, beberapa motor melawan arus. Sebelum lampu merah Halim, ada genangan air setinggi kurang lebih 30 cm. Mobil dan motor merayap pelan di sisi kanan. Lagi asyiknya kami merayap, tiba-tiba dari sisi kiri melaju Pajero agak kencang. Kurang ajar, gelombang airnya agak kencang. 

6.40 aku berada di depan konter check in. Tinggal print boarding pass saja karena sudah web check in. “Boarding jam 7.15 ya pak” kata si mbak petugas konter dengan ramah. Suasana Bandara Halim normal-normal saja. Beberapa cafe dan restoran mulai buka. Tapi nanti saja sekalian sarapan di Malang, lebih enak dan jauh lebih murah tentunya. 

7.15 bukan pengumuman boarding tapi suara petugas dari pengeras suara malah mengumumkan penerbangan ke Malang delayed sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena cuaca dan jarak pandang. Tumben, biasanya delayed dijelaskan berapa lama meski kerap molor juga. Tapi ini dari awal dijelaskan delayed tanpa batas waktu. Lantas disusul pengumuman bahwa penerbangan ke Kuala Namu dan Samarinda, pesawatnya yang seharusnya landing di Halim tapi dialihkan ke Cengkareng. Karena itu penerbangan ditunda 180 menit alias tiga jam. Ini ruang tunggu khusus Batik Air. Untuk penumpang Citilink berada di ruangan lain. Tapi feeling ku mengatakan Citilink juga pasti ditunda. Aku melongok ke jendela, dua pesawat Citilink dan dua pesawat Batik Air parkir di apron. Hujan deras. Tidak tampak petugas di dekat pesawat. Runway sepi. Tidak ada pesawat yang take off maupun landing. 

IMG_20200101_101125.jpg

Melalui grup WA aku mengabarkan situasi Halim. Aku mengambil rekaman video beberapa menit tentang suasana ruang tunggu dan pesawat yang parkir. Video ku kirim lewat WA. Naskah VO ku ketik di aplikasi Keep Notes lalu copas ke WA juga. 

Iman yang tengah bertugas mengabarkan, program Bisnis Pagi berminat live skype denganku jam 8.45.

Siyaaap.

Problemnya, aku hanya punya satu handphone. Untuk live skype dibutuhkan dua handphone, pertama untuk koneksi video Skype sedangkan HP kedua untuk koneksi audio melalui sambungan telepon. Live Skype tidak menggunakan audio skype. Sehingga jika koneksi skype ngadat, live tetap bisa berlangsung dengan sambungan telepon. 

Aku harus mencari seseorang yang bersedia meminjamkan HP. Masih ada waktu satu jam sebelum hit time live. Perut keroncongan. Ada restoran bakso yang memiliki smoking room. Ini cocok, suasana dingin-dingin sarapan bakso panas. Harga bakso yang diatas 60 ribu menghilangkan selera makan. Cukup memesan teh manis panas. Nanti saja sekalian sarapan di Malang, lebih enak dan jauh lebih murah. Di smoking room aku ngobrol dengan dua penumpang yang menunggu flight ke Balikpapan. Dalam otak, aku menimbang di antara dua pria ini, kepada siapa aku akan meminjam HP ke siapa.

Segelas teh manis hangat tandas masuk perut.

Ahaa, aku khan bawa laptop. Install skype di laptop lalu HP untuk sambungan telepon. Tidak perlu meminjam HP orang. Pelayan restoran mengatakan di restoran tidak ada wifi dan menyarankan menggunakan wifi bandara. Laptop tidak bisa terkoneksi dengan wifi bandara. Beralih ke tethering dari HP. Terhubung tapi lemot. Mungkin pengaruh smoking room yang terletak menjorok di belakang dan berdinding kaca. Menunggu beberapa saat agar baterai laptop terisi baru bergeser ke ruang tunggu. 

Di bangku ruang tunggu, koneksi lancar. Aku mengunduh aplikasi Skype dan melihat streaming CNNIndonesia TV. Di grup kantor terbaca bahwa mulai jam 9 pagi mulai program Breaking News. Fina, staf peliputan mengabariku hit time live skype jadi 9.05. Aku tampaknya akan live perdana di Breaking News.  Agar eksis, aku harus screenshoot streaming ketika nanti live. Dengan sekali menekan tombol PrtScr (Print Screen) tampilan layar tertangkap. Masalahnya di Windows 10 tidak terpasang aplikasi Paint. Kemana aku harus copas Screenshot? COba di online editor, ada aplikasi yang bisa copas screenshot. Solved.Aku tersenyum membayangkan pamer live report dari Halim di sosmed. 

Skype masih proses unduh. Aku menyalakan kamera dan mematut framing terbaik. Latar belakang ku ruang tunggu yang penuh penumpang. Situasi landai saja, tidak tampak penumpang yang protes atau marah meski delay dua jam lebih. Para penumpang tampaknya memahami kendala cuaca. 

Penginstalan skype berhasil. Aku log out akun skype di HP dan log in skype di laptop. Fina menelepon, sebentar lagi live skype mulai. Tapi Fina tidak bisa menghubungi skype ku. Aku cek, entah mengapa tiba-tiba koneksi internet dari tethering menguap. Skype tidak terhubung. Tapi sambungan telepon jelas terdengar. Saatnya hit time live, diputuskan produser, aku laporan phoner saja. 

Presenter yang bertugas adalah Heranof, mantan wartawan Istana Wapres yang kini bertugas siaran. Ranof menanyakan beberapa hal antara lain situasi bandara Halim, bagaimana akses menuju Bandara Halim, apa yang dilakukan maskapai untuk mengantisipasi kendala ini. Aku melaporkan dengan lugas. 

Done.

Di grup kantor, Mas Danang Cahyo, wartawan senior di Semarang membagikan video landasan pacu Halim terendam air setinggi lutut. Macam aliran sungai. Sangat membahayakan bagi pesawat. 

 Jam 10.00 terdengar pengumuman yang mengejutkan. Tiga penerbangan Batik ke Malang, Balikpapan dan Ambon dibatalkan. Penumpang diminta ke konter di area keberangkatan untuk mengurus refund. Aku sempatkan merekam video papan pengumuman, para penumpang yang berpindah ke area kedatangan. Termasuk koper-koper yang kembali diturunkan.

Antrian mengular panjang. Jika satu pesawat berisi 150 penumpang kalikan tiga flight ada 450 penumpang Batik. Terlebih Citilink lebih banyak lagi flight. 

Satu jam mengantri.

“Batik…Batik… Yang penumpang batik…” Seorang petugas Batik Air memanggil para penumpang untuk mengikuti langkahnya. Kami menyibak antrian yang begitu rapat. Di depan resto KFC kami berhenti. Antri lagi.

Gerah.

IMG_20200101_120311.jpg

Seorang ibu bersama dua anaknya, sesama penumpang Batik jurusan Malang berdiri di depanku. Sebut saja Cici, awalnya merasa sudah terlambat. “Jalan depan rumah aku di Kelapa Gading banjir selutut. aku harus gendong koper keluar komplek untuk mencapai taksi.” cerita si Cici.

“Di jalan aku berdoa, Ya Tuhan semoga pesawatnya delay” Cici tiba di Bandara Halim pukul 8 pagi. Kala itu flight masih delay.

“Tuhan mengabulkan doa Cici, bahkan dikasih bonus. Tak cuma delay tapi sekalian cancel plus ngantri” gurauku.

“Aku gak berani doa macem-macem lagi deh” balas si Cici.

Di belakangku, ada keluarga. Suami dan istri bergantian mengantri. Mereka juga ingin berlibur ke Malang. 

Di sampingku, dua pemuda yang hendak terbang ke Balikpapan. “Kita nunggu empat jam di dalam pesawat. Kok gak terbang-terbang” Oalaaah para penumpang ke Balikpapan sudah siap di dalam pesawat. Mereka seharusnya terbang jam enam. Masih mending aku yaah, menunggu di ruang tunggu. Bisa makan, merokok, ngopi.

“Tapi aku pernah delay 5 jam lho mas di Manila. Sampe habis nonton 3 film termasuk Bhohemian Raphsody” Aku berusaha berempati.

Kala itu, penerbangan Philippine Air sedang kacau. PAL dalam proses perubahan sistem komputer. Akibatnya jadwal berantakan. Dari kota Dumaguete, aku delay tiga jam. Setiba di Manila, check in dan diminta langsung boarding. Waaah terbang niih pikirku. 

Lhaa ternyata, di dalam pesawat delay lima jam sembari menunggu penumpang dari kota lain. Untung masih ada in flight entertainment. Lumayan nonton film sampe bosen.

 

Suasana menghangat. Beberapa penumpang adu mulut akibat aksi serobot antrian. Paskhas yang berjaga sigap melerai. 

 

Aku membuka percakapan dengan seorang anggota Paskhas yang berjaga. Dia menunjukkan kepadaku foto-foto pembersihan landasan pacu dari lumpur. Banjir sudah surut tapi lumpur menumpuk. “Kapan bisa terbang?”

Bintara itu menggelengkan kepala. 

Otakku berputar. Bagaimana aku bisa mencapai Malang? Putaran otak lambat sebab perut kosong, ngantuk dan mulai kelelahan. Shanty mengirimkan screenshot Traveloka, tiket kereta ke Malang malam nanti masih tersedia. Aku membuka Traveloka. Iyess masih ada tiket. Aku memesan kereta Majapahit yang berangkat jam 22.00 dari Pasar Senen. Booked then pay.

Ticket issued.

Saat mengunduh tiket dari email, mataku samar membaca keganjilan. Kok tanggal 2 Januari yaaks. Waah besok Kamis dong, nyampe Malang, Jumat  jam 2 siang. Sedangkan Sabtu jam 11 pagi aku dan keluarga harus sudah kembali ke Jakarta naik kereta Jayabaya.

Kacau.

Lapar, ngantuk, kelelahan dan salah order tiket kereta.

Kencing aja dulu lah, buang urine dan sapa tau ada inspirasi datang.

Aku bilang ke beberapa orang di antrian bahwa ke toilet dulu. Keluar dari toilet, aku melongok ke konter. Untuk melayani ratusan penumpang, Batik dan Citilink hanya membuka dua konter. Pantas saja begitu lama. Kasian terutama yang lansia jika bepergian sendiri. Tidak ada jalur prioritas untuk lansia atau ibu hamil. Dari baris antrian terdengar aneka cerita. Ada yang membawa orang sakit dan harus segera dioperasi. Ada pula penumpang yang harus tiba di tujuan karena ditunggu jenazah untuk segera dimakamkan. Aku merasa beruntung karena bebanku tidak seberat penumpang lain.

Petugas kebersihan memalangkan gagang pel di pintu toilet. “Gak ada air. Di dalam banyak kotoran, saya bingung bagaimana bersihinnya” ujar seorang petugas kebersihan. Lengkap sudah tragedi banjir yang meluap hingga melumpuhkan bandara. 

IMG_20200101_132111.jpg

Kreeek….kreekkk bunyi printer pita itu dirindukan. Jika kreek..kreeek terdengar, pertanda antrian maju sejengkal. Tibalah waktuku menghadap petugas konter Batik Air.

Pilihannya hanya dua refund atau reschedule.

Jika refund, petugas akan membatalkan flight di sistem Batik lalu penumpang mengklaim ke travel dimana memesan tiket. Mekanisme dan lama pengembalian tergantung prosedur setiap travel. “Full fare” petugas mengingatkan penumpang berhak mendapatkan penggantian penuh.

Untuk opsi rescheduled, karena rute Jakarta ke Malang hanya lewat Halim maka pilihan jadwal digeser keesokan harinya.

Aku menanyakan apakah mungkin geser ke Surabaya melalui Soetta malam ini juga. Opsi tersebut tidak bisa karena tidak bisa reroute, ganti rute ke kota lain.

Pilihanku jatuh rescheduled, dijadwalkan kembali terbang pada keesokan harinya, Kamis 2 Januari 2019 jam 7.45 pagi. Pilihan sama juga diambil Cici. Tapi ia dan anak-anaknya tak bisa pulang ke Kelapa Gading. Mereka harus mengeluarkan uang untuk menginap di bandara. Sedangkan pasangan suami istri memilih refund. Mereka bergegas ke Soetta untuk mengejar pesawat ke Surabaya demi bisa check in di hotel kota Batu yang sudah mereka pesan sebelumnya.

Aku beringsut keluar. Beberapa penumpang dengan wajah letih mengantri, bertanya mengenai opsi-opsi yang dilakukan di konter. Sayang sekali tidak ada petugas yang keliling untuk memberi penjelasan kepada penumpang yang kecapekan mengantri tanpa tahu apa yang terjadi di ujung konter. 

Mengapa proses refund dan reschedule tidak bisa dilakukan online saja? Setiap penumpang bisa melakukan di telepon pintar masing-masing. Toh si petugas konter pun hanya klik-klik beberapa kolom lalu printed. Jaman sudah digital begini tapi tidak didayagunakan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s