Menamai Penyakit

“Apalah arti sebuah nama” ujar William Shakespeare.

Namun setiap orang tua tentu ingin menamai buah hatinya dengan nama yang indah, mengandung arti dan harapan. Ketika istri hamil anak pertama, saya pernah membeli beberapa buku mengenai nama-nama anak. Yang pasti, kami ingin menamai anak kami dengan awalan A. Alasannya sederhana, konon anak yang berawalan A lebih punya kepercayaan diri karena ketika di sekolah harus siap jika dipanggil kedepan kelas oleh guru, mengerjakan soal atau sekadar menghapus papan tulis. Menghapus papan tulis berkontribusi tegak lurus dengan kepedean. Musti lapang dada jika dicela, kelak brewokan karena penghapusan tak bersih tuntas. Contohnya saya sendiri hahahaaa. 

Kebiasaan Homo Sapiens atau manusia, menamai segala sesuatu, entah keturunan, tempat, benda, tumbuhan, hewan bahkan penyakit. 

Lalu bagaimana menamai suatu penyakit? 

Pada tahun 2015 silam, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis panduan penamaan penyakit. Panduan ini hasil kolaborasi WHO dengan World Organisation for Animal Health (OIE) and the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dengan tujuan mengurangi dampak buruk nama penyakit terhadap ekonomi, perdagangan, wisata, keselamatan binatang dan tidak mencap buruk pada orang, wilayah, negara, pekerjaan atau etnis tertentu.

“Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa penyakit menular manusia baru telah muncul. Penggunaan nama-nama seperti ‘flu babi’ dan MERS Middle East Respiratory Syndrome “Sindrom Pernafasan Timur Tengah” memiliki dampak negatif yang tidak disengaja dengan menstigmatisasi komunitas atau sektor ekonomi tertentu, ” kata Dr Keiji Fukuda dari WHO.

Hal ini mungkin tampak seperti masalah sepele bagi beberapa orang, tetapi nama penyakit benar-benar penting bagi orang-orang yang terkena dampak langsung. WHO telah melihat nama-nama penyakit tertentu memprovokasi reaksi terhadap anggota komunitas agama atau etnis tertentu, menciptakan hambatan yang tidak dapat dibenarkan untuk melakukan perjalanan, perdagangan dan perdagangan, dan memicu pembantaian hewan makanan yang tidak perlu. Ini dapat memiliki konsekuensi serius bagi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat.

Di awal munculnya coronavirus, sempat ada yang menamainya “Wuhan Virus”. Nama ini berkonotasi negatif terutama bagi daerah dan orang yang berasal dari Wuhan. Di Amerika Serikat, Australia dan Inggris sampai muncul rasisme dan diskriminasi kepada orang-orang keturunan Asia. 

COVID-19

11 Februari 2020, WHO resmi menamai infeksi corona virus yang tengah merebak dengan COVID-19. Tak boleh lagi ada penyebutan lain.

Panduan WHO menyatakan tidak boleh menamai penyakit dengan nama wilayah seperti MERS (Middle East Respiratory Syndrome), Flu Spanyol, Demam Rift Valley.

Tidak boleh menamai penyakit dengan nama orang, contohnya penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit Chagas.

Tidak boleh menamai penyakit dengan nama binatang, contohnya flu babi, flu burung, cacar monyet. Naah media, ahli medis atau siapapun tak boleh lagi lhoo menyebut flu babi atau flu burung, penyakit yang dulu sempat heboh juga.

Tidak boleh menamai penyakit dengan nama yang berkaitan secara kultural, populasi, industri atau pekerjaan, contohnya penyakit Legiun.

Tidak boleh juga menamai penyakit dengan istilah yang menakutkan seperti kematian, fatal, mematikan. 

WHO mengembangkan praktik terbaik untuk memberi nama penyakit menular manusia baru dalam kerja sama erat dengan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dan dalam konsultasi dengan para ahli yang memimpin International Classification of Diseases ( ICD).

Penamaan penyakit mempertimbangkan beberapa hal yaitu;

  • Apakah penyakit tersebut adalah penyakit menular, sindrom atau penyakit bawaan manusia
  • Penyakit tersebut belum pernah menjangkiti manusia
  • Penyakit tersebut berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan masyarakat
  • Belum ada nama penyakit yang diketahui dalam penggunaan umum

 

Di masa lalu, penamaan penyakit terdengar agak puitis bin klasik, tetapi juga tidak tepat. Malaria, dinamai pertama kali sekitar 1890an, berasal dari bahasa Italia yang berarti “udara kotor”, meskipun kini kita tahu, Malaria tidak menular lewat udara tapi oleh gigitan nyamuk. Rabies, penyakit kuno yang sudah dikenal sejak abad 16, namanya berasal dari bahasa Latin yang berarti kegilaan atau kemurkaan. Meskipun rabies lanjut dapat menyebabkan orang mengalami perilaku abnormal dan delirium, nama tersebut tidak menyampaikan banyak informasi tentang penyebab atau penyebaran virus. Delirium adalah gangguan mental serius yang menyebabkan penderita mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s