Belajar dari Rumah, Hari Kedua

“I did something different”

“Seruuuu!!!”

WhatsApp Image 2020-03-18 at 1.26.48 AMReaksi Adlina dan Arai kegirangan main typing.com dari Senin pagi hingga siang. Aku tak mengira mereka suka sekali belajar mengetik. Rencana awal, Belajar dari Rumah di Hari Pertama, sesi pagi akan mengerjakan tugas sekolah, barulah di sesi siang main typing.com. Namun aku sudah menduga, Senin pagi belum ada tugas apapun dari sekolah. Masih butuh waktu untuk menyiapkan materi, soal dan mekanisme belajar online. Apalagi ini perdana. 

Sejak Minggu siang, guru meminta para wali murid mengumpulkan alamat email. Senin siang, urusan per emailan ini belum beres. Di kelas Adlina misalnya masih ada beberapa wali murid yang belum menyetor alamat email. Ada yang gaptek tak bisa buat akun email. Ada pula yang protes karena email Yahoo tidak diterima. Ketentuan memang wali murid dan guru harus menggunakan Gmail. 

Shanty sebagai pengurus kelas, ikutan repot menagih ke wali murid.

Belajar dari Rumah, Hari Pertama pun berubah. Aku memperkenalkan typing.com dan segera duo Adlina Arai tenggelam dalam keasyikan. Jari-jemari menari di papan ketik.

“Awesome”

“Great Job”

Komentar typing.com setiap kali Adlina dan Arai menyelesaikan suatu tahapan. Mengejar tiga bintang jika tahapan dilalui dengan sempurna. Adlina dan Arai penasaran jika hanya dapat dua bintang.

Di sekolah memang dibiasakan sistem penghargaan berupa bintang. Siswa yang menyelesaikan tugas tepat waktu dapat bintang lebih daripada yang telat. Siswa yang disiplin, dapat bintang lebih.

Bintang bisa diminus jika siswa tidak tertib atau tidak mengikuti instruksi. Contohnya tidak berbahasa Inggris saat English Time. Peraih bintang terbanyak bulanan, dinobatkan sebagai Best Student.

Pin Best Student disematkan ke dada siswa ketika upacara bendara. Seluruh sekolah tahu, siapa jagoan bulanan ini. Si jagoan berhak mengenakan pin Best Student sebulan penuh. Adlina dan Arai pernah mengenakan pin Best Student.

Upacara bendera dan mekanisme best student ini jadi pertimbangan kami memilih sekolah ini. 

Kami tidak suka sekolah yang tidak mengadakan upacara bendera. Ada lhooo sekolah macam beginian, tidak ada upacara bendera. Bibit-bibit kebencian kepada negara, disemai untuk tumbuh radikal. Dibungkus dengan label agama. Hati-hati dan laporkan jika ada sekolah begini.

Mas Menteri Nadiem dan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus rajin mengawasi dan ambil tindakan.

Sesi pagi dan siang terlewati.

Sesi sore, mestinya Get Moving. Tapi aku ada keperluan. Gantinya Shanty mengajak Adlina dan Arai membuat Churos. Syedaaaapppp

Belajar dari Rumah ini tentu upaya kita bersama untuk memerangi COVID-19. Agar tidak terjangkit coronavirus, setiap orang disarankan tinggal di rumah. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah. 

Belajar dari Rumah di Hari Kedua, Selasa 17 Maret 2020.

Jadwal, materi dan soal dikirimkan guru ke email setiap wali murid. 

Jadwal Adlina kelas 6, diawali dengan stretching, simple exercise dan sholat dhuha pada pukul 07.30 sampai 08.00. Wali murid membubuhkan tanda tangan di buku pantauan ibadah. Bukti bahwa siswa melaksanakan ibadah sholat dhuha.

Materi selanjutnya, Adlina mengerjakan try out Bahasa Indonesia dan tematik Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Jawaban diketik di MS Word lalu dikirim ke email kelas.

WhatsApp Image 2020-03-18 at 1.27.39 AMSkill mengetik yang terasah dari typing.com mulai ada gunanya. 

Sisi spiritual juga digarap. Adlina diminta menghafalkan beberapa surat seperti At Tiin, Al Kafirun, Al Maun, Al Qadr, Al Fill dan Ayat Kursi. Ditambah membaca QS Al Maidah ayat 3 serta Al Hujurat ayat 12. Hafalan dan bacaan direkam lantas disisipkan ke email.

Berikutnya, pelajaran musik. Pihak sekolah sudah menyiapkan link Youtube musik Di Timur Matahari, Adlina diminta menyanyikan. Aktifitas ini butuh dua smartphone. Pertama untuk memutar Youtube, yang kedua digunakan untuk merekam nyanyian. Hasil rekaman pun dikirim via email. 

Untuk Arai, yang kelas 4, rangkaian belajar online dimulai dengan Physical education, lompat tali. Lanjut sholat dhuha, menghafal QS Al Lail ayat 1 – 10.

Selanjutnya Arai mengerjakan tematik Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dengan tema keberagaman atau pluralisme. 

Mempelajari kurva tertutup dan terbuka bagian dari mata pelajaran Matematika jadi menu berikutnya.

Beres Math, leyeh-leyeh dulu. Snack time.

Fresh, seger lagi, Arai berikutnya belajar mendongeng dan unsur-unsur cerita di tematik Bahasa Indonesia.

Shanty merekam Arai memainkan pianika lagu Suwe Ora Jamu. Hasil rekaman video agak besar filenya hampir 30 MB. Dikecilkan dulu dengan aplikasi InShot lantas dikirim via email.

Rangkaian belajar dari rumah, ditutup dengan tadarus QS Al A’raf ayat 89 – 113.

Di pagi hari, Arai sempat ngambek. Diam saja. Aku tanya, tidak ada jawaban. Diam saja. 

Aku biarkan. Tak berapa lama, barulah Arai mulai meraih lembar pelajaran.

“Biarin gak papa. Arai masih adaptasi. Kayak hari pertama masuk sekolah ” ujarku menenangkan Shanty yang mulai spanneng, menghadapi ngadatnya Arai. Padahal Adlina sudah wus-wuss melaju kencang dengan pelajarannya.

Kuliah Online

Selasa ini, juga pertama kali aku mengajar online mata kuliah Investigasi Multimedia di Universitas Bakrie. Agar fokus, aku geser ke Clover Cafe di Kalibata City. Banyak orang menghadap laptop, earphone terpacak di telinga, berbicara ke lawan bicara yang entah dimana. Work from Cafe niih. WIFI yang kenceng dan suasana cafe yang menggelembungkan semangat kerja. “Kami biasa mengerjakan proyek diatas 500 juta an” suara kencang seorang pria yang duduk di sebelahku. Entah bisnis apa yang dia bicarakan.

Aku pun sibuk menyiapkan Google Classroom. Ini pertama kalinya aku menggunakan Google Classroom. Isih grotal gratul, meraba-raba.

Tapi aku sudah terbiasa kuliah daring sejak 2012 ketika menimba ilmu di Ateneo de Manila University. Program Master of Arts of Journalism ini memang didesain untuk working journalist, jurnalis yang masih aktif bekerja. Karena itu mengkombinasikan kelas online dengan offline.

Semester pertama, aku jalani online, memakai platform Blackboard.com 

Dosen mengunggah reading materials  berupa buku, jurnal dan artikel. Sebelum hari H kuliah, semua bahan bacaan itu harus habis dilahap. Kuliah biasanya berlangsung jam 6 sore waktu Jakarta atau jam 7 malam waktu Manila. Kami masuk ke chatroom. Suara pintu terbuka dan pintu tertutup setiap kali ada peserta yang keluar masuk. 

Assignment, tugas-tugas juga diberikan melalui Blackboard

Semester kedua, offline. Mabuhay, Aku terbang ke Manila dan belajar di kampus Ateneo de Manila yang asri dan jembar di Quezon City.

Semester ketiga, kembali online. Kami meriung lagi di Blackboard. Aku seneng mendengar Pinoy, orang Filipina melafalkan Blackboard, seperti Blakbord.

Mabuhay lagi di semester empat, terbang lagi ke Manila. 

Proses bimbingan dan ujian thesis pun secara daring. Kali ini aku, dosen pembimbing dan dosen penguji terhubung melalui Skype.

Balik aah ke Google Classroom. Aku mengirim kode kelas ke ketua kelas agar disebar ke mahasiswa. Satu persatu mahasiswa masuk ke Classroom. Absen dulu dong. 

Assignment awal tersedia, mahasiswa diminta menjawab beberapa pertanyaan pendahuluan.

Kuliah lanjut di Google Hangout. Agar lancar, menu Video Call dimatikan. Aku memajang presentasi dan menjelaskan lewat Chat. Mahasiswa bisa bertanya atau menanggapi di chat pula.Jawaban-jawaban mahasiswa di assignment awal pun dibahas. 

Supaya dinamis, aku menyisipkan video yang diputar.

Lanjut presentasi. 

Sesi kuliah diakhiri dengan assignment. Aku melaporkan ke Prodi via email, proses perkuliahan dilengkapi dengan screen shot.

Sudahkah anda online hari ini haha? #diamdirumahcuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s