Kepala Kakap, Simpang Ampek

Wangi kemangi meruap ketika gulai kepala kakap dikeluarkan dari pemanas. Rasanya sedaaap sekali. Ikannya lembut dan tidak amis. Kuahnya gurih, tidak terlalu kental. Enak diseruput ketika hangat. Si Uda tak keberatan membanjiri kantong plastik ketika aku minta tambahan kuah.

Gulai Kepala Kakap

Simpang Ampek berada di trotoar Pasar Rebo. Berupa warung tenda yang buka selepas senja jatuh. Posisinya di dekat pintu keluar tol dari arah Tangerang. Jika anda turun dari bus, gampang sekali menemukannya. Tapi jangan coba-coba makan ke Simpang Ampek bawa mobil. Tak ada parkiran. Kecuali anda mengendarai Granmax merah bertulisan Kp Rambutan – Depok PP. Anda bisa ngetem sepuasnya sambil angkat kaki menyantap hidangan ala Padang.
Menu di Simpang Ampek kebanyakan ikan, ada nila, kakap, tongkol, lele yang digoreng, digulai atau dibumbui asam padeh. Jika anda menggemari rendang, anda akan kecewa. Simpang Ampek tak lagi menjual rendang. “Orang hanya minta bumbunya, dagingnya malah sisa,” ujar si Uda. Rendangnya enak, banget. Saking enaknya, orang cuma minta bumbu, ngirit tak perlu beli dagingnya. Murah namun nikmat, tak heran Simpang Ampek selalu laris, tak perlu jimat penglaris.

Yang di baskom niih Gulai Kepala Ikan Mas

Makan di Simpang Ampek kadang diwarnai pergulatan batin. Bukan, bukan soal kolesterol. Kolesterol maah cuman ada di lab, tenang. Begini, dulu sewaktu masih nyangkul di Tangsel, setiap Jumat sore balik ke Jakarta, tol JORR tak pernah bercerai dari macet. Turun dari bus, sisa waktu Magrib tipis sekali. Pilihannya, segera berlari ke mushola di dalam Pasar Cijantung atau melepas salat Magrib lalu masuk ke tenda Simpang Ampek.


“Magrib nanti saja, dijamak sekalian Isya. Kamu tuh udah capek habis kerja, uyel-uyelan berdiri di bus. Lapar. Makan aja dulu. Lagian sholat Magrib gak bakal khusuk kalo buru-buru. Tuhan Maha Mengerti kok.” Entah siapa yang berbisik, malaikat atau setan kok bawa-bawa nama Tuhan di urusan nasi Padang.
Aku sering kali (selalu ding) menuruti pilihan kedua. Menyusup ke tenda Simpang Ampek lalu berebut kursi. Uda dibantu Pak Tuo masih menurunkan dagangan dari gerobak tapi pelanggan sudah merubung. Telat sedikit. tak bakal kebagian tempat duduk. Datang lebih awal juga berkesempatan memilih menu yang masih lengkap.

Aku memesan tongkol asam padeh.

“Alhamdulillah bro, perut kenyang, hati senang, sholat jamak bisa khusuk,” bisikan di telinga kanan.

Tanpa ijin, rayuan menjilat telinga kiri “Tapi sebat dulu sob sambil ngeteh manis”

Duuuh ini malaikat dan setan juga makin semangat kalo kekenyangan tongkol asam padeh Simpang Ampek. Lalu kapan kamu mau coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s