Gen Zers, Tumpuan Melawan Perubahan Iklim

extinctionrebellion.id

“Kita banyak yang percaya, banyak yang matanya terbuka soal perubahan iklim. Kita sadar dan aware” ujar Chelsea Austine, seorang mahasiswa. Pernyataan itu diungkapkan Chelsea dalam “Climate Change from the Eyes of Generation X and Z”, Chelsea berbagi pandangan dengan tantenya, Tasia, mengenai kesadaran akan krisis iklim, pengaruh pendidikan antar generasi, peran pemerintah, hingga solusi menghadapi krisis iklim. Video tersebut adalah bagian dari acara “TUA MUDA PETUAH KITA Percakapan Antar Generasi di Indonesia tentang Krisis Iklim” yang diselenggarakan secara daring oleh IG @extinctionrebellion.id

“Nyatanya, tidak semua masyarakat Indonesia yang tersebar dari berbagai generasi percaya atau terbuka dengan isu perubahan iklim,” lanjut Chelsea yang berusia 20 tahun. Walau demikian, ia percaya kalau kesadaran serta inisiatif diri untuk menyuarakan urgensi krisis iklim secara konsisten merupakan kunci utama untuk memantik perubahan sistemik yang kita butuhkan.

Sikap Chelsea tersebut mencerminkan hasil survei yang dilakukan Yayasan Indonesia Cerah dan Change.org Indonesia. Survei yang dilaksanakan selama sekitar 2 bulan (23 Juli – 8 September 2020) ini diikuti oleh 8.374 orang yang tersebar di total 34 Provinsi di Indonesia, dimana mayoritas adalah responden dengan rentang usia 20-30 tahun yang merupakan warga muda aktif pengguna media sosial. Survei disebarkan melalui website dan pengguna Change.org Indonesia, kanal-kanal media sosial dan aplikasi percakapan.

Survei menemukan sekitar 90% warga muda aktif merasa khawatir atau sangat khawatir tentang dampak krisis iklim. 97% diantaranya berpendapat bahwa dampak krisis iklim setidaknya sama atau lebih parah dari dampak pandemi COVID-19. Dampak yang paling dikhawatirkan meliputi krisis air bersih (15%), krisis pangan (13%), dan penyebaran penyakit atau wabah (10%). 19 dari 20 orang responden percaya bahwa manusia memiliki andil dalam menyebabkan krisis iklim.

“Kita sudah melihat bagaimana COVID-19 mengubah segalanya dalam beberapa minggu. Dampak krisis iklim dinilai akan menyerang lebih kuat dalam waktu yang dekat. Banyak yang berpendapat bahwa dampak krisis iklim sebenarnya sudah hadir hari ini, dan harus segera kita tangani. Kami melakukan survei ini untuk mengetahui bagaimana persepsi publik, terutama anak muda, tentang krisis iklim sebagai bahan pertimbangan untuk merancang strategi penanganan dampak krisis iklim kedepannya.” kata Adhityani Putri  Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah.

“Ada semacam kehausan dari anak muda, untuk terlibat dalam perlawanan ini. Semangat pada zaman sekarang ini adalah melawan krisis iklim. Dengan hasil survei ini, mengafirmasi kalau krisis iklim bukan hanya di luar negeri saja, tapi di Indonesia juga sudah terjadi. Kedepannya akan semakin banyak pressure grup dari kalangan anak muda untuk dorong perubahan.” ungkap Rara Sekar, musisi.

Menurut responden, sumber terbesar dari emisi gas rumah kaca (GRK) adalah kerusakan dan kebakaran hutan dan lahan (38%), diikuti asap kendaraan dan pabrik (35%), dan pembangkit listrik energi fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) (23%).

Pelestarian hutan, termasuk penghentian penebangan hutan alam, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan dan lahan gambut (28%) dianggap sebagai solusi paling tepat untuk meminimalisir krisis iklim. Solusi berikutnya adalah  peralihan energi fosil menjadi energi bersih dan terbarukan (26%). Saat ini sumber energi terbesar di Indonesia masih berasal dari energi fosil. Seperti batubara, minyak bumi dan gas alam. Namun, 91% responden percaya bahwa sudah saatnya Indonesia melepaskan diri dari sumber energi fosil.  

Kinerja pemerintah dinilai sebagai hambatan terbesar dalam penanganan krisis iklim (63%), diikuti dengan kurangnya kesadaran publik (24%). Sementara kondisi ekonomi dan harga energi bersih yang masih mahal dinilai sebagai hambatan terkecil (13%).

Komitmen pemerintah, DPR, dan perusahaan dalam penanganan krisis iklim masih dinilai buruk, dengan tingkat ketidakpuasan paling tinggi pada DPR RI. Meskipun demikian, hampir semua percaya bahwa krisis iklim harus menjadi agenda utama di pemerintah dan DPR dengan 79% responden pun setuju Indonesia menjadi pemimpin dunia dalam menangani krisis iklim.

Kesadaran terhadap lingkungan di kalangan muda ini juga bergelora secara mendunia. Beberapa waktu lalu, muncul sosok fenomenal Greta Thunberg, anak muda asal Swedia yang tegak berdiri dan lantang menyuarakan bahaya perubahan iklim.

Sejak September 2020, Italia adalah negara pertama yang mewajibkan pelajaran mengenai perubahan iklim masuk dalam kurikulum sekolah. Setiap siswa di semua jenjang wajib mempelajari perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan selama 33 jam per tahun.

Lalu di Universitas Sheffield, Inggris, setiap mahasiswa apapun jurusan mereka disyaratkan mengambil kuliah mengenai lingkungan demikian dilaporkan Wunderman Thompson dalam prediksi The Future 100, Trends and Change to Watch in 2021.

Sedangkan di Indonesia, Universitas Multimedia Nusantara membuka mata kuliah pilihan Jurnalisme Lingkungan yang mengajarkan para mahasiswa prodi Jurnalistik meliput isu perubahan iklim, polusi dan pembangunan berkelanjutan.

Gen Zers, alias para Generasi Z saat ini mencapai seperempat dari angkatan kerja. Gen Z akan menyangking kesadaran lingkungan ini dan diharapkan akan melakukan transformasi pada industri dan bisnis yang mereka kerjakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s