EKOWISATA, PELUANG GREEN JOBS BAGI ANAK MUDA

Muhaidin kagum dengan kesadaran para wisatawan asing ketika bertamasya bersama hiu paus di Teluk Saleh, Sumbawa. “Pernah ada yang mengingatkan nelayan bagan agar tidak kasih makan ke hiu paus,” cerita Muhaidin. Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Muhaidin aktif menggerakkan ekowisata di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa Barat. 

Wisatawan berenang bersama Hiu Paus di Teluk Saleh, Sumbawa

Anak-anak muda Pokdarwis Labuhan Jambu rajin meningkatkan kapasitas warga desa untuk terlibat dalam usaha ekowisata. Beberapa usaha dan lapangan pekerjaan yang dilakukan antara lain sebagai operator wisata, pemandu (guide), penyedia homestay, menyewakan perahu sampai dengan memproduksi kerajinan yang bisa menjadi oleh-oleh para wisatawan.

Menurut Muhaidin, saat ini sudah ada empat operator wisata dan 10 home stay di Desa Labuhan Jambu yang siap melayani wisatawan asing maupun wisatawan nusantara. Selain itu para anak muda juga bisa mencari rejeki dengan menyewakan mobil dan mengantar jemput tamu dari bandara. Sebelum masa pandemi, Pokdarwis sempat kebanjiran tamu lebih dari 300 wisatawan per bulan.

Tersihir pesona Hiu Paus

Sebagian masyarakat Desa Labuhan Jambu memproduksi madu, terasi dan kerupuk ikan. Produk tersebut dikelola dan dipasarkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) kepada para wisatawan yang datang melalui galeri atau ruang pamer di kantor Bumdes. Hasilnya cukup lumayan untuk mengebulkan dapur masyarakat. 

Wisata Hiu Paus pertama kali diluncurkan di Desa Jambu, bersamaan dengan event Sail Moyo Tambora 9-23 September 2018 yang dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan dan Menpar Arief Yahya waktu itu.

Pokdarwis Labuhan Jambu beranggotakan 11 anak muda yang selalu penuh semangat. Sebagai salah satu bagian Green Jobs, ekowisata tidak saja memutar roda ekonomi namun juga melindungi lingkungan. Karena itu Pokdarwis juga melakukan berbagai program konservasi untuk menjaga dan melestarikan ekosistem di Teluk Saleh. Salah satu programnya adalah mengumpulkan dana konservasi. Dari biaya paket wisata yang dibayar oleh wisatawan, dikutip 100 ribu per orang lalu dana konservasi tersebut dikelola oleh Bumdes. Sebagian dana tersebut digunakan untuk mengganti jaring nelayan yang rusak karena hiu paus. Dengan melampirkan bukti foto atau video, setiap nelayan yang jaringnya rusak, mendapat ganti rugi sebesar 400 ribu rupiah. 

“Ganti rugi ini cukup efektif untuk mengubah perilaku nelayan. Dulu, jika ada hiu paus yang mengenai jaring, mungkin karena jengkel, para nelayan mengusir bahkan menombak hiu paus. Tapi sekarang tidak lagi,” ujar Muhaidin mengenai kegunaan dana konservasi. 

Kegiatan konservasi yang lain, dilakukan pada November 2020 lalu, Pokdarwis bersama para mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang tengah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) melakukan transplantasi terumbu karang. Di ekosistem laut, terumbu karang adalah area yang penting bagi biota laut, wilayah untuk mencari makan, tempat para ikan “berpacaran”, kawin sampai berkembang biak punya anak cucu. Terumbu karang juga berfungsi menyerap karbon, proses penting untuk mencegah perubahan iklim seperti hutan tropis di daratan.

Muhaidin menyiapkan transplantasi

Ada 140 media ditanam dan lebih dari 90% mampu hidup dan berkembang sejak tahun lalu, yang ditransplantasi di terumbu karang kedalaman lima meter. Menurut Muhaidin, beberapa media yang gagal disebabkan oleh kesalahan manusia misalnya kurang kencang ikatan sehingga goyang atau lepas terkena arus. Tumbuhnya transplantasi karang ini membuktikan bahwa perairan di Teluk Saleh masih sehat, kaya nutrient  serta tidak mengalami peningkatan asam maupun suhu. Sebab terumbu karang sangat sensitif terhadap naiknya tingkat asam atau suhu yang menyebabkan coral bleaching atau pemutihan karang. 

Kuyyy, menyelam untuk menanam terumbu karang
Transplantasi Terumbu Karang di Teluk Saleh. Semua foto berasal dari Muhaidin, Pokdarwis Labuhan Jambu

Oleh sebab itu, Pokdarwis Labuhan Jambu bersemangat untuk terus menumbuhkan kecintaan pada lingkungan tidak hanya pada warga desa Labuhan Jambu tapi juga berusaha untuk menjangkau desa-desa lain di sekitar Teluk Saleh. Namun sayang akibat pandemi, kegiatan sosialiasi ke desa-desa sekitar yang sudah direncanakan harus ditunda untuk sementara waktu, menunggu badai pandemi COVID-19 mereda.

Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Teluk Saleh. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Pokdarwis yang masih mengelar beberapa kegiatan seperti peningkatan kapasitas anak muda untuk belajar bahasa Inggris secara daringagar bisa menjadi operator dan pemandu wisata yang lebih komunikatif dengan wisatawan asing. Ada juga kegiatan pelatihan virtual tour.

Designed by Adlina (12 years old)

Eksotisme hiu paus (Rhincodon typus) merupakan ikan terbesar di laut, menarik banyak turis untuk berkunjung ke Teluk Saleh. Menurut pendataan Conservation International (CI) Indonesia, ada lebih dari 90 ekor hiu paus yang berada di Teluk Saleh, Sumbawa. 

Para wisatawan harus mematuhi kode etik wisata bersama Hiu Paus. Kode etik ini dibuat untuk melindungi wisatawan, memastikan hiu paus tidak terganggu, dan masyarakat lokal terus mendapatkan manfaat dari wisata ini.

Designed by Araikal (10 years old)

Menurut International Labour Organization (ILO) Green Jobs telah menjadi lambang perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan mereka untuk generasi sekarang dan masa mendatang secara lebih layak dan inklusif bagi semua orang di semua negara. Salah satu contoh Green Jobs adalah pemandu wisata ekowisata seperti yang dikerjakan oleh Muhaidin di Teluk Saleh, Sumbawa. 

Secara singkat definisi ekowisata menurut The International Ecotourism Society adalah segala aktivitas wisata yang memiliki tanggungjawab kepada alam, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Tidak sekedar menikmati alam, prinsip yang diusung ekowisata harus memiliki beberapa manfaat seperti konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, menghormati kearifan lokal, dan pendidikan lingkungan. Prinsip tersebut yang membedakan ekowisata dengan wisata alam pada umumnya. 

Pariwisata merupakan sektor ekonomi unggulan Indonesia. Keindahan alam, keaneragaman hayati yang super kaya dan beragam budaya adalah potensi bagi pengembangan ekowisata. Sekaligus membuka berbagai peluang Green Jobs, lapangan pekerjaan yang layak dan ramah lingkungan bagi generasi muda. Muhaidin bersama Pokdarwis Desa Labuhan Jambu telah membuktikan bahwa anak muda mampu menciptakan lapangan kerja yang layak, bersih, ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s